Namun di bawah langit Beijing yang tampak kelabu, lagi-lagi Bolt menunjukkan bahwa predikat manusia tercepat di dunia masih dalam genggamannya.
Dalam pertarungan yang dinanti-nantikan oleh para pecinta atletik ini, Bolt tak memecahkan rekor dunia 9,58 detik yang dicetaknya di Berlin pada Kejuaraan Dunia 2009 silam. Akan tetapi waktu 9,79 detik yang ia catatkan cukup cepat untuk menyingkirkan Gatlin -- pelari yang mendapatkan kemenangan dalam 28 ajang terakhir yang ia ikuti.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sepanjang 2015, keduanya tidak pernah mengikuti ajang lari yang sama sehingga tensi di partai final Kejuaraan Dunia berada pada titik maksimal.
Tapi baik Bolt dan Gatlin memastikan bahwa mereka bukan sekadar jago berbicara atau beraksi di depan kamera. Gatlin yang kini berusia 33 tahun langsung memimpin sejak pistol ditembakkan di garis start. Ia juga terlihat akan mematahkan rekor belum terkalahkan Bolt di Kejuaraan Dunia sejak 2007 silam.
Bolt yang hanya terpaut sedikit di belakang Gatlin kemudian mampu mempertahankan konsentrasi dan merebut kemenangan di 20 meter terakhir -- memanfaatkan kesalahan Gatlin yang tampak hilang keseimbangan. Di akhir lomba, Gatlin hanya mampu meraih juara kedua dengan catatan waktu 9,80 detik.
Bolt memang hanya menang selisih 0,01 detik, akan tetapi raihan tersebut membuktikan bahwa Bolt lagi-lagi selalu tampil prima di saat-saat terpenting dalam hidupnya.
Bagi Bolt, kemenangan ini sendiri bukan soal mengalahkan Gatlin, tapi untuk dirinya sendiri.
"Kemenangan ini sangat berarti karena saya sangat kesulitan sepanjang musim. Saya membutuhkan beberapa waktu untuk mengetahui apa masalahnya," kata Bolt seusai berlari.
Ketika ditanyai seberapa penting kemenangannya, mengingat masa lalu Gatlin yang kelam, Bolt hanya berkata: "Bagi saya pribadi, saya mengerti (alasan itu) tapi saya ingin memenangi ini untuk diri saya sendiri. Ini kemenangan yang penting."
(vws)