Sementara itu induk perusahaan BudWeiser, AB InBev, mengatakan bahwa sosok Blatter menjadi "penghalang dalam proses reformasi" yang sedang berlangsung di tubuh FIFA.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Blatter membantah melakukan kesalahan. Pada Jumat (2/10), Blatter juga mengatakan bahwa pengunduran dirinya tidak akan bermanfaat bagi siapapun dan tidak akan mempercepat proses reformasi FIFA.
"Sekarang tidak penting apa yang akan dikatakan Tuan Blatter. Jika orang-orang yang akan membayar FIFA menginginkan perubahan, maka mereka akan mendapatkan perubahan," kata Dyke seperti dikutip dari BBC Sport.
"Bagi kami yang menginginkan perubahan mendasar, maka ini adalah berita baik."
Blatter terpilih kembali menjadi presiden FIFA pada Mei 2014, hanya beberapa hari setelah 14 petinggi FIFA dan pejabat perusahaan pemasaran olahraga ditangkap oleh otoritas Swiss karena tuduhan korupsi dan kejahatan terorganisir.
Blatter kemudian mengumumkan akan mengundurkan diri pada Februari 2016 setelah menyerahkan mandatnya di Kongres Luar Biasa FIFA. (vws)