"Setelah memikirkannya usai pertandingan, tentu saja hal ini tidak berjalan dengan baik," ujarnya soal susunan tim intinya, seperti dikutip dari Marca.
Di atas kertas, sebelas pemain yang ia pilih seharusnya menjadi yang terbaik di dalam skuatnya. Yang paling galak dalam menyerang. Tapi ia justru gagal memperhitungkan masalah-masalah lainnya, seperti faktor cedera, performa, dan juga keseimbangan tim.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada periode waktu itu, ia hanya mencatatkan dua kali tembakan, satu kali menggiring bola, dua kali umpan yang berbuah peluang, dan 18 kali passing.
Tapi tak ada sokongan yang bisa diberikan Kroos dan Modric di lini tengah. Keduanya sering kali terlihat lebih dekat dengan lini belakang dan membiarkan area tengah kosong melompong.
Tak ayal, Sergio Busquets dan Andres Iniesta dengan leluasa memainkan bola di lini tengah dan memberikan umpan-umpan terobosan kepada Neymar atau Luis Suarez.
Barcelona menang 4-0 di Santiago Bernabeu. (Reuters / Sergio Perez) |
Tunduk pada Tekanan
Secara kasat mata, kesalahan-kesalahan di atas terlihat seperti bukan kesalahan yang akan dilakukan seorang Rafael Benitez.
Sebagai tactician, ia terkenal mampu mengabaikan semua hal demi mencapai keseimbangan dalam timnya. Bahkan, tak jarang Benitez membuat para pendukung timnya frustrasi karena terlalu kaku dan tak berani mengambil risiko memainkan sepak bola yang lebih menyerang meski hanya berhadapan dengan tim papan bawah.
Hal ini yang sempat terjadi ketika ia melatih Liverpool, Inter Milan, dan juga Napoli. Benitez selalu menjadi pelatih yang memecah belah suara pendukung.
Di Madrid juga tak jauh berbeda.
Benitez kerap dianggap menarik tuas rem serangan Madrid meski ia membawa timnya memuncaki klasemen La Liga selama beberapa pekan. Memiliki 'seniman bola' seperti Ronaldo, Bale, atau Rodriguez dalam genggamannya, Benitez juga dianggap tidak bisa memaksimalkan mereka untuk menghasilkan keindahan.
Kritikan paling pedas datang setelah Madrid menelan kekalahan pertama mereka di La Liga melawan Sevilla sebelum jeda internasional. Benitez disebut membuang-buang peluang untuk menang ketika Madrid dalam posisi lebih unggul. Akibatnya, Sevilla punya peluang untuk bangkit dan merebut kemenangan.
Alasan yang disebutkan Benitez usai kekalahan itu terdengar rasional. Madrid baru saja menjalani pekan yang padat dengan melakoni dua pertandingan melawan Paris Saint Germain. Kehati-hatiannya dalam menjaga agar daftar pemain cedera tidak bertambah panjang juga sedikit banyak bisa dibenarkan.
Kehati-hatian ini yang justru tidak digunakan Benitez ketika menghadapi Barcelona. Ia terlihat mengingkari identitasnya sendiri dan tunduk kepada suara-suara kritikan yang dialamatkan pada dirinya selama sebulan terakhir.
Di saat-saat terakhir, Benitez justru mengubah susunan pemainnya. Casemiro yang menjadi kunci keseimbangan dan menjadi ciri khas Madrid bentukannya, ditinggalkan di bangku cadangan. Melawan Barcelona yang fasih menguasai bola, Benitez justru coba melawannya dengan mengimitasi Barcelona, memainkan dua gelandang yang ciamik dalam penguasaan bola tapi tak andal memutus serangan.
Hal ini terasa kontras jika dibandingkan ketika ia mendapatkan kemenangan di markas Barca pada 2007 lalu bersama Liverpool di ajang Liga Champions.
Menghadapi Azulgrana yang kala itu memegang status juara bertahan, tanpa tedeng aling-aling Benitez menggunakan lima orang bek. Ia juga menginstruksikan Dirk Kuyt untuk bermain bertahan di sektor sayap.
Di Santiago Bernabeu, Sabtu malam tadi, Benitez berubah. Media Spanyol AS, bahkan mengatakan bahwa susunan pemain yang ia pilih adalah lebih karena didorong faktor politik, yaitu mengamankan posisinya sebagai pelatih.
Dan pada akhirnya ia menanggung konsekuensi dari pilihan itu.
Barca bermain nyaris sempurna, baik di lini serang, lini tengah, bahkan hingga ke bawah mistar gawang. Iniesta yang mengatur serangan dari lini tengah menunjukkan kejeniusannya dalam mengatur serangan, sementara Busquets menjadi jangkar yang membuat Bale tak bisa berkutik. Ketika serangan Madrid sesekali bisa menembus lini pertahanan Barca, Claudio Bravo juga hadir untuk memastikan Madrid tak bisa mencetak gol.
Pada akhirnya, Barcelona mengajarkan bahwa hanya tim yang bermain sesuai identitasnya sendiri lah yang pulang dengan tegak kepala.
(vws)
Barcelona menang 4-0 di Santiago Bernabeu. (Reuters / Sergio Perez)