Jonatan berhasil mengendalikan laga dengan baik di game pertama dan menutup game pertama dengan mudah, 21-14. Masalah kemudian datang bagi Jonatan di game kedua.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kekalahan itu membuat saya ikut tegang dan gugup saat pertandingan berlangsung," ujar Jonatan berterus terang.
"Saya bahkan tak bisa fokus dan berkonsentrasi penuh terhadap permainan. Saya mulai menyalahkan kondisi sekitar seperti angin, padahal hal itu seharusnya tak boleh saya lakukan," ujar Jonatan.
Jonatan akhirnya berhasil keluar dari tekanan di saat kritis. Ketika Jonatan tertinggal di poin-poin akhir game penentuan, dirinya justru tampil lebih tenang dan tak terburu-buru.
"Saya berkata pada diri saya bahwa saya harus bisa mengatasi tekanan yang ada di final Kejurnas ini."
"Tekanan di turnamen ini tidak akan ada apa-apanya dibandingkan tekanan bila tampil di Piala Thomas, karena itu saya harus berhasil melakukannya," kata Jonatan membuka rahasia keberhasilannya bangkit di akhir game penentuan.
Bagi Jonatan, ini adalah gelar Kejurnas pertama dalam kariernya sebagai pemain bulutangkis.
"Saat kelompok Taruna, saya hanya berhasil masuk babak semifinal. Sedangkan di nomor dewasa, pada penyelenggaraan Kejurnas sebelumnya, saya kalah di babak perempat final di tangan Ihsan Maulana Mustofa," ucap Jonatan. (ptr)