Bekraf tidak berlaku sebagai perancang logo dan maskot baru, melainkan sebagai panelis yang nantinya akan memilih rancangan terbaik dari para desainer profesional. Satu rancangan terbaik kemudian akan dipresentasikan kembali kepada pihak Kemenpora. Waktu penyelenggaraan sayembara terbatas belum ditentukan.
"Tim ini adalah panelis, pembuat tema yang harus menjadi referensi bagi peserta sayembara," ujar kepala Bekraf, Triawan Munaf, di kantor Kemenpora, Rabu (6/1) malam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Logo ini tak sekadar dari sisi artistik saja melainkan memperhitungkan strateginya, terkait tujuan Indonesia untuk menghasilkan Asian Games yang berkelas," ujar Triawan melanjutkan. "Itulah yang ingin kami jaga."
"Kemungkinan logo bisa berubah total yang penting bisa mencerminkan semangat Asian Games," ujar Triawan.
Kemungkinan perombakan total logo dan maskot itu bisa menjadi persoalan karena Indonesia telah menyetorkan desain logo kepada Komite Olimpiade Asia (OCA), sementara maskot yang baru diluncurkan 27 Desember lalu belum didaftarkan.
Pihak Kemenpora melalui Kepala Komunikasi Publik, Gatot Dewabroto, menyatakan Indonesia masih bisa mengajukan revisi kepada OCA.
"OCA mewajibkan tuan rumah memiliki logo dan maskot. Mengingat ada revisi nanti kami akan melaporkan pada OCA," ujar Gatot.
"Revisi ini bukan berarti Indonesia melakukan pelanggaran, melainkan revisi yang nanti wajib dilaporkan kepada OCA."
(vws)