"Yanto Basna punya killer mentality (mental pembunuh) yang tidak ngawur. Misalnya, dia sering melakukan tekel keras dan tepat sasaran. Tapi, bukan menjurus permainan kasar," kata Danurwindo kepada CNNIndonesia.com, Selasa (26/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mental pemain dan konsistensi sepanjang turnamen turut jadi pertimbangan. Permainan kasar jangan jadi kebiasaan karena kaitannya bisa berpengaruh kepada cara bermain di level internasional nantinya," ujar mantan pelatih tim Primavera itu.
Pemain Muda Bersinar
Secara keseluruhan turnamen PJS dianggap lebih sukses dibandingkan even sebelumnya, Piala Presiden. Selain muncul juara baru, PJS berhasil mengorbitkan para pemain bintang berusia muda.
Dua pemain muda Naga Mekes, Yanto Basna (20) dan Yogi Rahadian (20) mulai diperhitungkan sebagai pesepak bola level atas. Pemain sayap Semen Padang Irsyad Maulana (22) juga makin mengilap.
Kualitas laga final PJS tak juga kalah dengan Piala Presiden. Mitra Kukar sukses menggondol trofi PJS setelah menundukkan Semen Padang dengan skor 2-1 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Minggu (24/1). Tim asuhan Jafri Sastra sempat tertinggal lebih dulu sebelum akhirnya membalikan keadaan.
"Juaranya tidak lagu terpaku dengan tim besar. Drama final antara Mitra dan Semen Padang juga lebih baik ketimbang final Piala Presiden yang mempertemukan Persib Bandung dan Sriwijaya FC," analisis Danurwindo.
Kendati demikian, mantan Direktur Teknik Pelita Jaya itu berharap Indonesia bisa kembali menggelar kompetisi regulel secara normal. Sebab, turnamen jangka pendek dianggap tidak efektif untuk menempa kualitas dan mental pemain menuju level internasional.
"Bagaimanapun tolok ukur sesungguhnya ada di kompetisi. Turnamen ini hanya sebatas pengisi waktu lowong saat kompetisi vakum. Tapi, kita juga harus apresiasi semangat penyelenggara dan seluruh pemain yang terlibat," ujar mantan pelatih tim nasional Indonesia itu. (jun/jun)