Djokovic sendiri bermain cepat, kuat, dan nyaris sempurna di set pertama. Ia bisa membaca nyaris seluruh langkah Federer ketika ia bermain menyerang ke depan net dan mengirimkan bola ke sudut-sudut yang mustahil terjangkau oleh sang petenis Swiss.
Tak heran Federer hanya memenangi 3 dari 7 permainan di depan netnya di set pertama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Federer sendiri sempat mengubah permainannya jelang set kedua berakhir. Jika sebelumnya ia mengeluarkan berbagai variasi pukuran andalannya, mulai dari slice, top spin, hingga dropshot tajam, di set kedua Federer lebih sabar dan mulai meladeni bermain dari belakang baseline.
Petenis Swiss itu mencatatkan 18 winners di set ketiga, jauh berbeda ketika ia mendapatkan hanya lima winners di set kedua dan enam winners di set pertama.
Di set keempat yang dimainkan dengan tensi tinggi, Djokovic kembali mematahkan servis Federer di gim ke delapan. Ia tak kehilangan satu angka pun di gim penentuan dan membungkus pertandingan dalam dua jam dan 19 menit.
Keberhasilan itu membuat Djokovic melaju ke final grand slam ke-19 dalam kariernya. Ia hanya terpaut satu final dari torehan Rafael Nadal, dan telah melampaui Ivan Lendl (19 kali final) dan Pete Sampras (18 kali final).
Ia juga unggul jumlah kemenangan dalam laganya berhadapan dengan Federer. Djokovic menang 23 kali sementara Federer 22 kali. (vws)