Di pengujung babak pertama, Alberto Undiano, sang pengadil lapangan, langsung memberikan Luis kartu merah karena pelanggaran keras terhadap Messi. Giliran Godin yang mendapat kartu kuning kedua pada menit ke-65 setelah pada menit ke-24 mendapat kartu kuning pertama.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mantan pemain yang pensiun di timnas Argentina pada 2002 itu pun ogah menimpali soal kepemimpinan Undiano di laga tersebut. "Saya hanya ingin membahas tim kami. Keputusannya mengusir Luis adalah bagaimana ia (wasit) melihat situasi tersebut," ujar Simeone.
Atletico Madrid seperti membangkitkan raksasa yang sedang tertidur. Gol pembuka penyerang "Rojiblancos" yang dicetak oleh Koke, bikin tim arahan Luis Enrique mengamuk.
Alhasil, "Blaugrana" menghukum permainan terbuka Atletico melalui dua gol balasan oleh Lionel Messi dan Luis Suarez, saat laga memasuki 30 menit. Di babak kedua, drama pertandingan kedua tim seolah memasuki puncaknya.
Upaya Atletico untuk mempertahankan permainan terbuka menghadapi amukan Barcelona pun menimbulkan kerugian tim itu. Bukan hanya kalah 1-2, "Rojiblancos" kehilangan dua pemain andalannya akibat kartu merah.
Ia pun menyadari, peluangnya kian tipis meraih gelar setelah kalah dari tim kuat, Barcelona. "Barcelona tetap tim kuat dan sangat tajam dalam menyerang," Simeone mengungkapkan.
"Mereka punya peluang besar sebagai tim terkuat musim ini. Memang, perjalanan masih panjang, tapi Barcelona sulit dikalahkan lawan-lawannya."
Simeone pun mengakui bahwa ini kekalahan yang cukup berat bagi timnya. "Tapi kami harus melanjutkan setiap pertandingan dan tak akan meninggalkan filosofi bertarung seperti halnya hari ini, tetap bermain ngotot meski dengan sembilan pemain," ujar mantan pemain yang pernah membawa Atletico juara Liga Spanyol pada musim 1995/96 itu saat masih merumput di klub tersebut. (bac)