"Pertemuan kali ini lebih hidup dari sebelumnya, mungkin karena ada angin segar dari pemerintah. Senang rasanya, anak-anak (pemain) bisa kembali berkiprah," kata sekretaris klub PSMS Medan, Helmi Yunus, kepada CNNIndonesia.com usai rapat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"ISC ini adalah jawaban dari harapan insan sepak bola, karena sudah lama PSMS terpuruk karena tidak ada kompetisi. Kalau ada kompetisi, harusnya kami sudah ada di ISL," ujar Helmi.
Juara ISB B berhak mendapatkan Rp1 miliar sementara runner up dan peringkat ketiga masing Rp700 juta dan Rp350 juta.
PT GTS selaku operator akan melakukan subsidi kepada ISC B untuk mencegah krisis finansial di tengah jalan. Setiap klub akan diberikan Rp400 juta sebagai kompensasi keterlibatan di fase grup.
Masing-masing klub yang lolos ke babak 16 besar akan mengantongi suntikan dana tambahan sebesar Rp300 juta dan Rp 150 juta bagi tim yang melenggang ke perempat final.
Agar tidak mengulangi kasus penunggakan gaji, PT GTS berjanji memberikan sanksi tegas berupa pengurangan poin bagi klub yang telat membayar gaji pemain.
"Setiap klub yang telat dibayar gaji akan mendapatkan sanksi pengurangan poin. Menurut saya ini bagus. Jadi, owner tidak bisa sesuka hati kepada pemain," ucap Helmi.
Gairah Kebangkitan PSMS
Sejak beberapa tahun terakhir, PSMS mengalami masa kelam di kompetisi Tanah Air. Konflik kepengurusan manajemen semakin menenggelamkan pamor klub kebanggaan warga Medan itu dari prestasi.
Energi PSMS lebih sibuk mengurusi dualisme kepengurusan ketimbang membangun kekuatan untuk lolos ke level kompetisi tertinggi. Gairah PSMS kembali meninggi setelah dibina Pangkostrad TNI Letjen TNI Edy Rahmayadi.
Di bawah kendali pelatih Suharto AD, PSMS yang kini dihuni mayoritas pemain muda dari anggota TNI AD sukses meraih titel Piala Kemerdekaan 2015.
Hadirnya ISC membawa angin segar seluruh klub yang haus terhadap aktivitas sepak bola termasuk bagi PSMS, yang tengah bergairah bangkit dari keterpurukan. (jun)