"Saya tahu mereka melakukannya pada olahraga lain, akan tetapi hal itu tak berlaku untuk tinju," kata Lewis seperti dikutip dari BBC Sport. "Saya kira rencana itu hingga batas tertentu tidak masuk akal."
Menurut Lewis hal yang paling harus diperhatikan adalah faktor kesalamatan para petinju.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Inilah alasannya kami memasangkan pelindung kepala yaitu untuk melindungi mereka karena mereka belum memiliki banyak pengalaman."
Rencana ini semula didengungkan oleh presiden AIBA (Asosiasi Tinju Internasional untuk Amatir), Dr Ching-Kuo Wo. Ia ingin menghapus peraturan yang melarang petinju profesional dengan 15 pertarungan atau lebih untuk berlaga di Olimpiade.
Usulannya ini masih menunggu persetujuan Komite Eksekutif AIBA, tapi Wu yakin bahwa "sangat mungkin" untuk mengubah peraturan tepat waktu sebelum Olimpiade Rio de Janeiro.
Selain Lewis, presiden Konsul Tinju Dunia (WBC), salah satu organisasi tinju profesional paling bergengsi, juga mengecam rencana ini dan menyatakan Wu sebagai orang yang "tidak memahami makna tinju dan yang diwakili oleh tinju."
"Dengan memasangkan petinju amatir melawan profesional dan menghilangkan pelindung kepala, AIBA menunjukkan bahwa mereka tidak memiliki perhatian terhadap keselamatan pada petarung, atau cara yang benar untuk menggelar pertandingan olahraga," kata Mauricio Sulaiman seperti dikutip dari Philstar.
"Bagaimana caranya turnamen tinju yang berlangsung berhari-hari bisa dilaksanakan secara aman dan adil tanpa pelindung kepala? Para petinju muda berhak untuk memiliki pilihan dan juga kesempatan di tinju amatir." (vws)