Sebagai pelatih, kapasitas Cruyff sudah tidak diragukan lagi. Dia sukses mengoleksi 12 trofi ketika menangani Ajax dan Barcelona. Cruyff juga diklaim sebagai penyelamat Barcelona ketika melatih di Camp Nou sepanjang 1988 hingga 1996.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kecanduan Cruyff terhadap tembakau semakin parah ketika dia mulai merasakan tekanan sebagai pelatih, ketika Barcelona tak kunjung menuai hasil positif. Cruyff diklaim menghisap sekitar 20 batang rokok per hari.
"Cruyff sangat beruntung karena cedera yang ia alami sangat parah, tapi ia tiba tepat pada waktunya untuk mengatasi hal tersebut," ujar dokternya saat itu, Mario Petit.
Beralih ke Lolipop
Mendapatkan peringatan keras dari dokter dan juga istrinya, Cruyff akhirnya memutuskan untuk berhenti merokok karena takut hal itu akan berujung fatal. "Saya tidak merokok karena saya diperingati akan meninggal jika saya terus merokok," ujar Cruyff saat itu.
Hasilnya, rokok yang rutin tampak di mulut atau tangannya kini berganti dengan permen lolipop. Cruyff juga pernah tampil di kampanye Departemen Kesehatan Katalonia dengan kata-kata terkenalnya: "Sepak bola telah memberikan segalanya untuk saya, tembakau nyaris merenggutnya semua."
Kebiasaan merokok Cruyff membuat ayah dari Jordi tersebut menderita penyakit kanker paru-paru. Cruyff mengungkapkan dirinya mengidap penyakit kanker paru-paru ke publik pada Oktober 2015.
Cruyff meninggal di Barcelona, Spanyol. Kepastian meninggalnya Cruyff terungkap lewat situs resmi penyerang ikonik Barcelona dan Ajax tersebut.
"Pada 24 Maret 2016, Johan Cruyff (68) meninggal dengan damai di Barcelona, dikelilingi keluarganya setelah lama berjuang melawan kanker. Dengan penuh kesedihan, kami meminta Anda untuk menghormati privasi keluarga di waktu berkabung ini," demikian pernyataan lewat situs resmi Cruyff. (har)