Menurut Calderon, Perez telah mengubah kondisi klub yang semula dijalankan dengan menganut prinsip demokratis.
"Dulu Real Madrid adalah klub demokratis, dengan anggotanya bisa mencalonkan diri sebagai presiden. Karena itulah mereka menjadi para pemiliknya," kata Calderon seperti dikutip dari AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Calderon terpilih sebagai presiden Madrid di periode 2006 hingga 2009. Di masa-masa itu ia terkenal dengan janji-janjinya mendatangkan pemain bintang seperti Arjen Robben, Cesc Fabregas, Kaka, dan Cristiano Ronaldo.
Akan tetapi Calderon hanya mampu mendatangkan Robben.
Setelah masa kepemimpinan klub beralih tangan pada Vincente Boluda selama enam bulan, Florentino Perez terpilih untuk kedua kali sebagai presiden. Ia langsung membuat gebrakan dengan mendatangkan Cristiano Ronaldo dengan harga transfer yang saat itu tertinggi di dunia.
Perez pun memulai era bintang-bintang kedua dengan membeli sejumlah nama terkenal seperti Karim Benzema, Gareth Bale, Toni Kroos, dan James Rodriguez.
Hal ini tak luput dari kritik Calderon.
"Ia sangat senang mengumpulkan penyerang-penyerang mahal, yang didatangkan bukan dengan uangnya sendiri. Seperti halnya kebiasaan mengumpulkan stiker sepak bola," kata Calderon.
"Ia memiliki albumnya tapi tidak tahu harus menempatkan stikernya di mana." (vws)