Bagi Dejan, kesulitan tersebut bukan hanya faktor cuaca di Tanah Air yang cukup panas. Ada sejumlah syarat pula yang harus dipenuhi di tim jika ingin bermain menekan dan agresif.
Menurutnya, cukup tiga faktor utama yang bisa mendukung permainan seperti itu. "Yang pertama, Anda harus fit 110% di lapangan," ucap Dejan saat dihubungi CNNIndonesia.com, Senin (4/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jika Anda melihat latihan Persib, kami selalu menerapkan pressure tinggi. Kami banyak wall pass, banyak umpan, penguasaan bola, semua kombinasinya," ujarnya.
"Tapi begitu pertandingan seperti kemarin, pemain malah banyak melakukan umpan jauh, saya tidak tahu kenapa."
Padahal, menurutnya, permainan menekan seperti itu pun tak harus diterapkan setiap pertandingan. "Itu cuma bisa kadang-kadang tergantung dari lawan. Contoh saat lawan Bali (United), kami coba dengan pressure," kata Dejan.
Saat melatih di Hongkong, Kitchee FC, ia mengaku selalu menerapkan permainan umpan-umpan pendek, banyak bergerak, tiki-taka, banyak overlap, dan shooting.
"Saya suka jika kami bisa bermain dengan banyak kombinasi," ucap mantan pelatih Pelita Bandung Raya (PBR) itu.
Tapi begitu melatih Persib, Dejan kaget karena para pemain seperti tak bisa lepas dari kebiasaan mengandalkan umpan jauh. "Kami sama-sama bingung dan saya bertanya kenapa begitu. Tapi kadang-kadang pemain tidak mendengarkan karena hanya ingin main aman," tuturnya
"Saya khawatir tidak ada kepercayaan diri dari pemain sehingga mereka berpikir aman saja untuk main dengan umpan-umpan jauh."
Dejan sendiri tidak suka pemain banyak main dengan umpan jauh. "Saya suka dengan sistem permainan PBR lalu, saya suka dengan permainan Persib musim lalu juga," katanya.
"Tapi kemarin, Persib ada Firman, Ridwan, Konate, ada Supardi. Mereka adalah super star dan tidak takut mengambil risiko." (bac)