Dikabarkan Reuters dan La Gazzetta dello Sport, Berlusconi telah menandatangani kontrak penjualan tersebut dengan valuasi Milan senilai €700 juta (termasuk utang-utang yang ditanggung). Proses ini secara efektif akan mengakhiri masa kepemimpinan Berlusconi bersama Milan yang telah berlangsung 30 tahun terakhir.
Konsorsium itu akan mengalirkan dana segar senilai €350 juta dalam tiga tahun ke depan, dengan €100 juta akan langsung digulirkan secepatnya setelah proses administrasi kesepakatan rampung.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berlusconi yang seorang penduduk asli kota Milan membeli kesebelasan yang dijuluki Rossoneri itu pada Februari 1986 melalui perusahaan media miliknya, Finnivest. Bukan hanya menyelamatkan Milan dari kebangkrutan, Berlusconi pun menanamkan uang untuk membawa Milan pada era kejayaannya.
Kemerosotan Liga Italia dalam satu dekade terakhir turut membuat AC Milan ikut terpuruk. Rossoneri kini tak lagi punya daya pikat dan kekuatan finansial yang sama untuk menarik talenta terbaik di dunia -- masalah yang secara kasar hanya bisa diselesaikan oleh kedatangan pemodal baru.
Berlusconi secara terbuka telah menyatakan dirinya kini tak bisa bersaing dengan pengusaha Rusia atau Timur Tengah yang dalam satu dekade ke belakang muncul di peta persepakbolaan Eropa dan mengacaukan standar harga pemain.
Karena itulah, pria yang sudah tak menjabat lagi sebagai Perdana Menteri Italia tersebut kini melepas kesebelasan kesayangannya itu.
Ini adalah ketiga kalinya perusahaan China membeli saham klub besar Eropa.
Pada Desember lalu, dua perusahaan milik pemerintah China, yaitu China Media Capital (CMC) dan Citic Capital, resmi mendapatkan 13 persen saham Manchester City seharga US$400 juta.
Sementara itu, Inter Milan juga telah menjual 70 persen saham mereka pada Grup Suning, raksasa penyalur alat elektronik dan rumah tangga asal China. (vws)