Sebagai gambaran perjuangannya, para perenang Maladewa misalnya, harus berlatih di Samudera India -- seringkali pada malam hari -- jauh dari ibukota, Male.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami pernah berlatih dengan sampah yang mengapung disekitaran kami. Dan terkadang ubur-ubur menyengat kami," kata perenang juara nasional Maladewa, Aminath Shajan, seperti yang dikutip dari NST Online, Jumat (5/8).
Nasib Nishwan dalam menjalani persiapan Olimpiade sedikit lebih beruntung dari Shajan. Ia berlatih dengan kolam berukuran 25 meter di tengah laut, dengan dibatasi oleh balok-balok yang mengapung.
"Kami berlatih dengan cahaya yang remang-remang di malam hari, dengan ombak dan sampah. Ketika bernafas, terkadang ada air dalam mulut Anda -- atau lebih buruk dari itu."
"Saya juga pernah melihat ikan pari dan ubur-ubur. Anda bisa saja takut. Akan tetapi ketika Anda terbiasa dengan itu, semua tak lagi jadi masalah. Lebih mudah berenang di laut yang tenang dan bersih, karena rasanya lebih ringan," kata Nishwan.
Kondisi tersebut membuat kedua perenang tersebut menyediakan waktu untuk berlatih di luar negeri untuk persiapan yang lebih baik. Shajan berlatih di Thailand dan Ibrahim di Afrika Selatan.
Berbeda dengan mereka, perenang Mongolia Batsaikhany Dulguun menjalani persiapannya untuk Olimpiade tahun ini dengan berlatih di Sungai Selenge. Sungai tersebut memiliki jarak tempuh sekitar 689 kilometer dari rumahnya, Ulaanbaatar.
Hal ini terpaksa ia lakukan lantara tak ada fasilitas yang memadai di daerah tempatnya tinggal.
"Saya hanya memiliki ikan sebagai rekan saya berlatih dan dengan berlatih di sungai saya merasa sedikit lebih dingin. Tapi tidak apa-apa. Filosofi saya selau: air adalah air." (ptr)