Berikut petikan wawancaranya dengan CNNIndonesia.com sebelum keberangkatannya ke Rio De Janeiro:
Bagaimana persiapan anda menghadapi Olimpiade kali ini?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir jadi salah satu pemain yang ditargetkan meraih medali emas. Komentar anda?
Tontowi/Liliyana bukan hanya gagal meraih emas di Olimpiade London, namun juga gagal memberikan medali. Apa yang terjadi saat itu?
Setelah kalah di babak semifinal pada Olimpiade lalu, kami seperti kehilangan semangat. Padahal kami masih punya duel perebutan perunggu setelah kalah.
Kami tak boleh lagi mengulangi kesalahan itu. Jangan sampai hal tersebut terjadi dua kali.
Empat tahun lalu, Tontowi/Liliyana jadi pemain paling diandalkan untuk meraih emas. Kini ada banyak pemain yang jadi andalan. Seperti apa pengaruh hal tersebut?
Tentunya sangat berpengaruh. Kami jadi lebih bersemangat. Kami pasti tak mau kalah dari mereka dalam hal mengharumkan nama Indonesia.
Dua turnamen terakhir (Indonesia Terbuka dan Australia Terbuka) berjalan buruk bagi Tontowi/Liliyana. Bagaimana evaluasi atas hal tersebut, terutama soal komunikasi di lapangan?
Kami harus menekan ego masing-masing. Jangan mengedepankan ego di lapangan.
Sebagai pasangan, tentunya ada positif-negatif di dalam diri kami berdua. Namun yang harus diutamakan adalah kami harus sama-sama berusaha keras untuk menghadapi Olimpiade kali ini.
Setelah Olimpiade, apa yang akan Anda lakukan?
Usai Olimpiade, saya belum tahu yang akan terjadi. Pelatnas pun belum membuat keputusan apakah nantinya saya tetap akan dipertahankan dalam promosi-degradasi di akhir tahun nanti. Fokus saya saat ini memang hanya ada pada Olimpiade.
Liliyana Natsir disebut akan pensiun dalam waktu dekat. Bagaimana dengan Anda?
Saya masih belum memikirkan soal kemungkinan pensiun. Saya pun masih memiliki ambisi untuk bisa membantu para pemain junior untuk menaikkan level mereka di kompetisi dunia.
Anda sudah jadi suami dan ayah saat ini. Bagaimana Anda melihat peran keluarga dalam karier saat ini?
Saya belum memberikan gelar bergengsi bagi keluarga kecil saya. Saya berharap bisa membahagiakan mereka lewat gelar yang saya raih. Peran keluarga sangat besar dan membuat saya lebih termotivasi dalam berlatih maupun bertanding.
Apakah anda punya nazar bila sukses jadi juara Olimpiade?
Bila saya berhasil jadi juara Olimpiade, maka saya akan pergi umrah bersama keluarga.
(ptr)