Jun Mahares
Penggemar sepak bola, penikmat kopi, dan pengagum paradigma kritis. Sempat meniti karier di SuperBall dan kini berkarya sebagai writer CNNIndonesia.com.

Bale, Pogba, dan Sudut Pandang Mou

Jun Mahares, CNN Indonesia | Jumat, 12/08/2016 08:59 WIB
Bale, Pogba, dan Sudut Pandang Mou Paul Pogba pindah ke Manchester United dan mendapatkan (Dean Mouhtaropoulos/Getty Images)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tanpa ada penyeragaman skenario, Gareth Bale dan Paul Pogba seakan menjalani alur cerita yang hampir sama: sama-sama digerogoti nada sumbang ketika menyandang status pesepak bola termahal sejagad.

Pada 2013 silam, Bale diberondong cibiran 'miring' lantaran dinilai tak pantas ditebus dengan mahar sebesar 85 juta poundsterling (sekira Rp1,4 triliun) dari Tottenham Hotspur ke Real Madrid.

Catatan minim prestasi menjadi celah bagi publik memperdebatkan kelayakan Bale yang kala itu masih 24 tahun.


Ia memang tergolong hijau soal gelar bergengsi. Sebelum menyabet gelar pemain termahal bersama Los Blancos, Bale hanya pernah menjadi runner-up Piala Liga Inggris bersama Spurs.

Musim pertama Bale di Bernabeu juga tak langsung berjalan manis. Hampir setengah musim dihabiskannya di ruang pesakitan akibat digerayang cedera.

Namun, keraguan publik terhadap Bale lambat laun berangsur sirna. Ia menutup akhir musim dengan gemilang setelah mencetak gol penentu kemenangan El Real 2-1 atas Atletico Madrid di final Liga Champions 2014.

Kini, kisah Bale juga dialami Pogba, meski tak sepenuhnya serupa. Menyandang pemain termahal dunia dengan cibiran yang menghujam.

Gelandang Perancis 23 tahun itu dianggap tak layak dibeli Manchester United dengan banderol 89 juta poundsterling atau sekira Rp1,5 triliun dari Juventus. Nilai yang fantastis untuk mendaratkan pemuda berusia 23 tahun.

Celah perdebatan semakin lebar karena sebelumnya Pogba adalah jebolan akademi The Red Devils yang dijual secara 'gratis' kepada Juventus. Sebuah kebijakan blunder yang harus ditebus dengan pengeluaran selangit.

Bagi sebagian penggemar sepak bola -yang acapkali bertindak layaknya pakar- Pogba mungkin dianggap masih kencur dan jauh dari kepantasan menyandang gelar pemain termahal di bumi.

Barangkali, sebagian penggemar tersebut lupa kalau Pogba yang pernah disia-siakan ManUtd, telah menjelma sebagai pemain bintang di Juventus.

Octopus (Gurita), begitu Pogba dijuluki di Juve, telah menancapkan namanya dengan harum di Liga Italia. Pemain buangan dari ManUtd itu telah mengisap banyak ilmu dari sejumlah bintang Juve, terutama dari sang maestro Andrea Pirlo.

Karier si Gurita bersama "Si Nyonya Tua" pun semakin menonjol sepeninggal Pirlo yang memutuskan hengkang ke New York City pada tahun 2015.

Bahkan, petinggi klub tak sungkan untuk menyerahkan jersey keramat bernomor 10 kepada Pogba. Sebelumnya, angka sakral tersebut adalah milik Carlos Tevez. Penghargaan tinggi itu kemudian dibalas Pogba dengan penampilan apik.

Merujuk data yang dirangkum SkySports, Pogba adalah antitesis atau bisa menjadi obat penawar terhadap kekurangan MU musim lalu.

Catatan statistik Pogba mengungguli sejumlah pemain tengah milik MU pada musim lalu termasuk Wayne Rooney, Ashley Young, Michael Carrick, dan Maraone Fellaini.

Postur tubuh tegap ditambah kecepatan yang dimiliki, praktis membuat Pogba menjadi gelandang bertahan yang sulit dilewati lawan.

Rata-rata Pogba sukses melakukan tekel sebanyak 2,3 kali, memenangi 8,9 duel, dan mampu melepaskan 1,2 tembakan tepat sasaran di setiap pertandingan.

Dengan tinggi menjulang hingga 191cm, Pogba juga sukses memenangi 1,9 duel di udara tiap laga.

Kepiawaiannya dalam mengolah bola membuatnya mudah melewati lawan. Setidaknya ia mampu melakukan tiga dribel di tiap laga. Selain itu, ia juga sukses melepaskan 42 kali umpan akurat.

Naluri mencetak gol Pogba juga tak boleh diragukan. Sebab, ia telah mengemas delapan gol dari 35 laga Serie A.

Catatan impresif itu menjadi alasan mengapa Pogba tergolong pemain spesial. Apalagi ia bisa memerankan tugas gelandang bertahan (DMF), gelandang sentral (CMF), dan juga gelandang kiri (LMF).

Sesekali ia juga mampu bertindak sebagai gelandang serang (AMF) lantaran didukung olah bola ciamik plus naluri menyerang yang bagus.

Dalam dunia sepak bola yang saat ini dipenuhi oleh para pemain spesialis –ketika peran gelandang dikotak-kotakkan lagi menjadi gelandang bertahan, gelandang serang, atau gelandang pengatur permainan (playmaker)—kehadiran Pogba terasa demikian langka.

Kacamata Mourinho

Salah satu pemutus perdebatan soal kelayakan Pogba menyandang pemain termahal karena desakan manajer anyar ManUtd, Jose Mourinho.

Mou, begitu ia akrab disapa, dikenal memiliki karakter kuat dan mampu menanamkan mental juara di setiap tim yang dipegang.

Meski acapkali menuai kritik karena cenderung memainkan sepak bola negatif, Mou adalah jaminan prestasi yang sahih.

Keberhasilannya menyemai empat trofi domestik di empat negara yang berbeda (Porto, Chelsea, Inter Milan, dan Real Madrid) jadi bukti otentik. Dua gelar Liga Champions bersama tim-tim non unggulan macam Porto (2003/04) dan Inter (2009/10) pun menjadi nilai plus Mourinho.

Dengan catatan mengilap tersebut, rasanya tak pantas bila ada yang menilai menilai keputusan MU mendaratkan Pogba dengan harga berapapun, sebagai sebuah kebodohan.

Tak dimungkiri, Mou adalah salah satu peracik strategi nomor wahid di jagad sepak bola. Ia juga dikenal pengagum pemain tengah andal yang punya kualitas komplet dan cerdas.

Mou pernah memiliki sosok pemain tengah ideal dalam diri Claude Makalele di Chelsea dan Esteban Cambiaso di Inter Milan. Keduanya merupakan gelandang pengatur ritme permainan tim yang dibesutnya.

Sementara Pogba, punya kualitas lebih lengkap dari Makalele dan Cambiaso. Yang pasti, Pogba bakal menjadi pemain reguler dengan formasi apapun yang diinginkan Mou.

Pogba punya segala kemampuan yang diinginkan Mou. Selain memiliki kemampuan setara dalam hal menyerang dan bertahan, pemain kelahiran Lagny-sur-Marne itu pintar membaca permainan.

Mantan pelatih Inter Milan dan Real Madrid itu yakin Pogba bisa melaksanakan tugasnya dengan baik di MU. Dengan kata lain, Mou tahu persis kualitas Pogba. Ia tak peduli seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan klub demi mendaratkan Pogba.

Mou yang menjuluki dirinya sendiri sebagai 'Special One' tentu punya alasan kuat mengapa ia begitu ngotot mendapatkan tanda tangan Pogba.

Jadi, mari hentikan perdebatan soal harga fantastis sambil menanti aksi Pogba di Old Trafford. (vws)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS