Ia bahkan mencurigai larangan tersebut lebih bermotif politik untuk menghalangi suatu negara berprestasi di ajang olahraga multicabang dunia tersebut.
Menurutnya, ada cabang olahraga tertentu yang tak mungkin lepas dari peranan doping. Ia mencontohkan cabang yang sifatnya perlombaan, Arshavin menilai mustahil tanpa doping di olahraga tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rusia harus membayar keputusan politiknya, termasuk di sepak bola. Apakah itu adil atau tidak? Hidup tentu tidak adil. Ini adalah tragedi besar bagi para atlet, terutama atlet Olimpiade."
"(Di sepak bola) kami memiliki kesempatan setiap dua tahun (di Piala Dunia dan Piala Eropa) dengan pemain-pemain bagus, mendapatkan banyak uang di klub, tapi sebaliknya bagi mereka (atlet)," tutur pemain berusia 35 tahun itu.
"Sementara mereka hanya bisa mendapat sekali atau dua kali kesempatan seumur hidup untuk memiliki apartemen yang kelas normal. Tentu saya memahami mereka, mereka tak dalam kondisi terbaik sekarang."
Pemain yang kini merumput di klub Kazakhstan, Kairat Almaty, juga menyebut ada pesepak bola yang menggunakan doping.
"Ada doping juga di sepak bola dan hoki dengan tingkat yang lebih sedikit. Di sepak bola, Anda tak bisa memprediksi. Di olahraga tim, sangat sedikit dopingnya," beber Arshavin. (bac)