Deputi Direktur Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat (Elsam), Wahyudi Djaffar, menyatakan bahwa persoalan mendasar adalah ketika terjadi pelanggaran hukum yang melibatkan anggota militer, dalam situasi apapun, maka masyarakat sipil tidak bisa menuntut akuntabilitas dan pertanggung jawaban yang transparan.
"Kepangkatan militer mengenal impunitas, sehingga kalaupun masyarakat sipil ingin mengadu, maka akan menemui kendala. Kalau pun melapor ke polisi, maka polisi akan merujuknya ke Denpom (Detasemen Polisi Militer), dan akan diurus oleh mekanisme internal," kata Wahyudi saat dihubungi CNNIndonesia.com.
"Dan kita tidak bisa menuntut transparansi dari mekanisme internal itu."
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ini adalah kali kedua dalam satu tahun terjadi bentrok antara pihak militer dan masyarakat sipil yang terjadi di arena olahraga. Pada 22 Mei lalu, terjadi bentrok antara suporter PS TNI dan pendukung Persegres di Stadion Petrokimia, Gresik.
"Dalam situasi seperti itu (menonton ajang olahraga), seharusnya mereka melepaskan atribut militer dan mengenakan pakaian seperti masyarakat sipil biasa," kata Wahyudi.
"Dan jika berada dalam situasi seperti itu, maka subyek hukum yang melekat pada diri mereka seharusnya dikenakan hukum sipil dan bukan hukum militer. Tapi yang terjadi saat ini adalah impunitas itu terus terjadi meski mereka bukan sedang dalam situasi dinas militer."
"Insiden-insiden ini menjadi alasan kuat untuk merevisi Undang-Undang Militer."