"Pelaku yang berlaku di luar azas kepatutan akan diberikan sanksi seperti tidak tampil di PON berikutnya atau tidak boleh bermain di kejuaraan klub/nasional. Tentu kita akan buat buku pedoman namanya 'Etik Organisasi'," katanya.
Tono menyebut dinamika yang terjadi di PON 2016 disebabkan ketidakpuasan atlet terhadap keputusan wasit/panitia pelaksana/technical delegate.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan aksi protes pun masih berlangsung hingga dua hari jelang PON berakhir dengan kontingen sepak bola Sulawesi Selatan menolak pengalungan medali.
Provinsi Sulawesi Barat bahkan hanya mendapat satu medali perunggu selama dua pekan penyelenggaraan PON 2016. Kendati begitu, Tono memberikan nilai 8,5 hingga 9 dari 10 untuk penyelenggaraan PON tahun ini.
"Membangun olahraga tidak akan bisa hanya empat tahun, harus terstruktur dan berkelanjutan. Keberhasilan para peraih medali yang banyak itu karena kebijakan politik pemerintahan daerah terfokus kepada pembinaan dan prestasi. Kedua, sarana dan pra sarana yang luar biasa, serta anggaran yang cukup.
"Kalau anggaran tidak disiapkan per tahun, maka prestasi tidak akan maju," ucapnya.
(vws)