Namun, Richard Permana berhasil mematahkan itu semua. Pria berusia 30 tahun itu berhasil membuktikan dirinya bisa hidup mandiri berkat permainan video game.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kepada CNN Indonesia.com, Richard mengungkapkan 'terjebak'-nya dia dalam permainan CS tak beda dengan remaja-remaja yang digandrungi permainan game daring di warung-warung internet.
Berkat keberhasilannya di Jerman itulah kehidupan Richard mulai berubah. Dia mulai bermain sebagai gamer profesional, dan dikontrak sponsor.
Bersama TEAMnxl>, Richard berhasil lima kali ke luar negeri dan secara berturut-turut menyabet juara di kejuaraan e-Sports internasional dari 2013 sampai 2015. Selama tiga tahun itu pula, katanya, tidak ada negara Asia Tenggara yang bisa mengalahkan Indonesia di Games CS: Global Offensive (CS:GO).
Richard Permana saat berjuang mewakili Indonesia dalam ajang TAFISA World Games 2016 di Ancol, Jakarta, 6 Oktober 2016. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat) |
Saat ini, Richard mengaku sudah memiliki penghasilan rutin per bulan hasil dari bermain game CS:GO. Hasil bermain atau yang ia sebut latihan selama delapan jam sehari, lima hari seminggu pun berbuah manis.
"Gaji saya dan tim didapat dari sponsorship, fresh money tournament, atau merchandise yang kami jual ke fans. Saya tidak bisa katakan berapa jumlah penghasilan saya per bulan, tapi yang jelas sudah di atas rata-rata UMR (Upah Minimum Provinsi) Jakarta," ucap Richard.
Untuk diketahui, pada 2016 ini UMR yang berlaku di Jakarta adalah Rp3,1 juta.
Kendati begitu, apa yang Richard capai sekarang tak lepas dari perjuangan dan pengorbanan di masa lalu. Ia harus berusaha keras meyakinkan kedua orang tuanya bahwa dia dapat bertanggungjawab atas pilihan yang dia ambil.
Tak hanya itu, Richard yang akhir tahun ini akan melepas masa lajangnya pun harus meyakinkan kekasihnya dengan pilihan hidupnya tersebut.
"Orang tua biasalah pada awalnya menentang. Puncaknya dulu, ketika saya berhenti kuliah di semester tujuh. Tapi ketika sampai di satu titik, saya bisa buktikan bahwa apa yang kami kerjakan menghasilkan, bisa kasih bukti membanggakan negeri juga, orang tua ya mau tidak mau mendukung apa yang kami jalankan," tutur Richard.
"Salah satu hal yang saya katakan kepada orang tua dan calon istri saya: Banyak orang yang ingin berada di posisi saya tapi tidak bisa. Kenapa saya harus mengorbankan apa yang saya capai hanya untuk memuaskan kepentingan orang lain?" sambungnya menambahkan.
Namun, diakui Richard, dirinya tidak bisa terus menerus menggantungkan hidup pada permainan video. Dia pun mencoba melirik profesi lain seperti bisnis.
"Untuk sekarang ini, saya ingin bisa mandiri dan juara dunia. Sementara bakal bergulat di dunia e-Sports dahulu," kata Richard.
(kid)
Richard Permana saat berjuang mewakili Indonesia dalam ajang TAFISA World Games 2016 di Ancol, Jakarta, 6 Oktober 2016. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat)