Rencananya, rapat kerja antara Komisi X DPR RI dan Kementerian Pemuda dan Olahraga untuk membicarakan persoalan realokasi anggaran 2017 dan 2018 digelar pekan ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jumlah tersebut lebih kecil hingga dua kali lipat dibandingkan pengajuan kebutuhan yang disampaikan Komite Olimpiade Indonesia (KOI) yang mencapai Rp4- 6 triliun.
Presiden INASGOC Erick Thohir. (Reuters/Aly Song) |
Namun, kata Erick, kekurangan tersebut bisa disiasati dengan penggabungan anggaran di 2018. Dia pun menegaskan, besarnya anggaran yang diminta untuk 2017 ini lantaran adanya biaya broadcasting fee yang harus disetor kepada Dewan Olimpiade Asia (OCA) sebesar US$30 juta atau sekitar Rp390 miliar.
Dari hasil rapat DPR, lanjut Erick, dana itu sudah dianggarkan setengahnya. Pihaknya kini tinggal melobi kembali agar kebutuhan broadcasting fee itu bisa langsung dibayarkan lunas sehingga memudahkan tim pemasaran mencari sponsor.
"Kalau mau mencari sponsor ada tiga hal yang akan ditanya. Cabangnya (cabang olahraga) apa saja sih? venue-nya mana? lalu broadcast-nya jadi atau tidak? Yang pasti, hari ini (Senin 17/10) dari tim INASGOC bertemu dengan Kementerian BUMN untuk membicarakan mengenai promosi, bagaimana INASGOC dibantu di airport, pesawat terbang, kereta, bus, dan sebagainya," sebut Erick yang juga Presiden klub Serie A, Internazionale Milan tersebut. (kid)
Presiden INASGOC Erick Thohir. (Reuters/Aly Song)