Selama ini, kata Soetjipto, Satlak Prima menghimpun, menganalisis, dan melaporkan perkembangan atlet kepada Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Hal itulah yang kemudian menjadi dasar penentuan target raihan prestasi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketua Satlak Prima Achmad Soetjipto. (CNNIndonesia/M. Arby Rahmat) |
Jika Indonesia ingin menang atau minimal setara dengan para rivalnya, lanjut Soetjipto, Indonesia harus bisa menggelar proses pelatihan dengan sistem yang sama. Saat ini, hampir di semua negara telah menggunakan sistem pelatihan yang sama.
"Tinggal kita pilih, mau adopsi sistem yang mana yang sekiranya sesuai dengan kebiasaan di Indonesia ini. Termasuk dengan ketelitian membidik nomor-nomor yang jauh dari konsentrasi pasar yang bisa dijadikan andalan," ujar dia.
Soetjipto pun mencontohkan dalam cabang olahraga renang. Kata dia Indonesia harus mampu mengetahui kemampuan untuk menutup jarak dengan perenang Singapura Joseph Schooling atau Fu Yuanhi asal China.
Jika tidak bisa, Soetjipto lebih memilih Indonesia untuk menutup kesenjangan dari nomor-nomor yang bukan prioritas. Hal itu pun dapat membantu untuk menutup target 20 medali emas di Asian Games 2018 nanti.
Satlak Prima yakin, lewat program HPP yang didukung dengan pemanfaatan sport science diharapkan bisa memenuhi target yang diusulkan pemerintah.
"Sebagai tuan rumah, tidak mungkin Indonesia memberikan target yang rendah. Pasti targetnya tinggi, itu yang harus kita penuhi dengan usaha-usaha yang kita lakukan," kata dia. (kid/kid)
Ketua Satlak Prima Achmad Soetjipto. (CNNIndonesia/M. Arby Rahmat)