Setelah sanksi dicabut, PSSI dan Kemenpora masih berdebat lokasi penyelenggaraan kongres. Akibatnya, jadwal kongres yang semula ditetapkan di Makassar pada 17 Oktober harus diundur hingga 10 November.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Edy tak memungkiri bahwa PSSI menginduk kepada FIFA. Namun, bukan berarti otoritas sepak bola tersebut tidak taat pada pemerintah dalam konteks pembinaan.
Terkait pencalonannya menjadi Ketum PSSI, Edy mengaku perdebatan yang terjadi antara PSSI dengan Kemenpora tidak menganggu persiapannya dalam melakukan kampanye.
"Oh tidak (menganggu persiapan), silahkan saja karena itu ada aturannya. Sudah diatur dalam statuta. Kalau tidak bisa dilakukan di Makassar, di Yogya, sekarang pindah lagi di Jakarta, itu adalah haknya Exco PSSI," ucap Edy.
Menurut Edy, mengelola sepak bola nasional semestinya tidak dianggap sebagai persoalan rumit. Sebab, tujuannya hanya mengabdi kepada rakyat.
"Karena dibikin ribet, jadi ribet! Bola kaki itu adalah milik rakyat Indonesia, bukan hanya ketua PSSI. Kedaulatan bola kaki akan kami kembalikan ke rakyat dan bersama rakyatlah sepak bola dibesarkan," tuturnya. (jun)