Seperti diketahui, kebutuhan atlet pelatnas di masing-masing cabang olahraga tidak sama rata. Jika di panahan sudah terbiasa untuk tidak mengelola langsung dana akomodasi, beda halnya dengan di angkat besi.
"Dulu, waktu di (Hotel) Century, kami tidak mengelola langsung (dana akomodasi). Mereka (Satlak Prima) yang bayar langsung," kata Alman Hudrie, Sekjen Pengurus Pusat Persatuan Panahan Indonesia (PP Perpani) kepada CNNIndonesia, Rabu (23/11).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bahkan, jelas Alamsyah, jika dihitung ulang, ia lebih bisa menyimpan dana akomodasi itu untuk dibelikan fasilitas penunjang atlet di luar Olympic Center ketimbang dana tersebut dikelola oleh Satlak Prima.
"Kami kan dapat sponsor daging dan suplemen. Itu sudah bisa berkurang kebutuhannya. Sekarang, biaya sewa kamar di Wisma Soegondo Djojopoespito berapa sih? Hitungannya sama saja dengan sewa rumah yang kami inginkan di dekat situ," kata Alamsyah jengkel.
"Jika mereka takut ada kecurangan yang kami lakukan kalau dana akomodasi itu kami atur sendiri, ketakutan itu sama halnya dari kami kepada mereka. Bisa dilihat kok semuanya, kami terbuka, atlet juga tahu," kata Alamsyah menjelaskan.
Seperti diketahui, angkat besi sejak awal menyebut tidak ingin tinggal di Wisma Soegondo Djojopoespito, kawasan Olympic Center Cibubur dengan alasan kondisi ruangan yang terlalu sempit. Sebab itu, PP PABBSI memilih untuk menyewa sebuah rumah dekat kawasan Olympic Center yang menyediakan tujuh kamar dengan uang sewa Rp150 juta per tahun.
Uang sewa itu rencananya ia minta dari Ketua Umumnya, Rosan Roeslani yang merupakan pengusaha sekaligus Ketua KADIN (Kamar Dagang dan Industri) itu. Tapi, jika itu terealisasi, uang akomodasi yang diberikan pemerintah jadi tidak berarti bagi pelatnas angkat besi, mengingat asupan gizi berupa daging dan suplemen atlet juga sudah dipenuhi dari sponsor. (bac)