LAPORAN DARI VIETNAM

Ketika Timnas Indonesia Lebih Sering Diam di Hadapan Wartawan

Ahmad Bachrain, CNN Indonesia | Kamis, 08/12/2016 20:00 WIB
Pelatih timnas Indonesia Alfred Riedl kerap mengeluhkan pemberitaan-pemberitaan media di Indonesia yang membuat skuatnya kehilangan fokus. Demi fokus, Alfred Riedl membatasi waktu bicara pemain Timnas Indonesia dengan media. (AFP PHOTO / HOANG DINH NAM)
Hanoi, CNN Indonesia -- Pelatih timnas Alfred Riedl memang bukan sosok yang pelit bicara jika ditemui untuk sekadar berdiskusi selama lima menit. Contohnya sebelum konferensi pers di Hotel Crowne Plaza, Hanoi, Selasa (6/12) lalu. Riedl pun terlibat obrolan santai dengan sejumlah wartawan dari Indonesia maupun asing. Meski santai, terdengar pembicaraannya cukup serius.

Dalam kesempatan itu, Riedl secara blak-blakan mengungkapkan pendapatnya tentang kebiasaan wartawan Indonesia dalam menyajikan berita timnas Indonesia. Mungkin lebih tepatnya keluhan yang ia sampaikan.

“Saya masih tidak habis pikir dengan kalian, kebanyakan pers di Indonesia. Saya lihat berita-berita di media internasional, mereka memberitakan sisi-sisi positif. Tapi kalian, banyak memberitakan yang negatif, terlalu banyak kritikan, dan sangat mengganggu,” ungkap Riedl kepada sejumlah wartawan sebelum konferensi pers saat itu.


Riedl pun mengeluhkan begitu agresifnya para media dari Indonesia untuk mewawancarai para pemainnya. Padahal, ada waktu-waktu tertentu ia meminta para pemain fokus dan tidak sibuk meladeni wawancara dari para wartawan

Saat usai latihan pada Selasa (6/12) malam di Stadion My Dinh, Riedl tampak mewanti-wanti sejumlah pemain agar tidak meladeni wawancara para jurnalis. Bahkan terlihat jelas sekali kala ia mengingatkan Stefano Lilipaly, salah satu pemain yang juga paling diincar insan media untuk berburu komentarnya.

“Sudah, kamu langsung bergabung bersama teman-teman di bus, jangan ada wawancara. Jangan lagi beri komentar, langsung berangkat,” demikian terdengar samar-samar pesan Riedl kepada Lilipaly yang sedang duduk menyeka keringat usai latihan.

Kala itu memang beberapa media, termasuk pula CNNIndonesia.com, sudah menyiapkan kuda-kuda mencegat salah satu pemain untuk sekadar dimintai pendapatnya mengenai pertandingan lawan Vietnam.

“Oke, saya amat memohon kepada Anda semua, jangan ganggu lagi pemain saya. Biarkan mereka fokus untuk pertandingan ke depan,” ucap Riedl kepada seluruh awak media di Stadion My Dinh, Selasa (6/12) malam.

Benar saja, Lilipaly memilih bungkam ketika CNNIndonesia.com mencoba mengajukan pertanyaan kepadanya. “Maaf saya tidak boleh berkomentar dulu, maaf sekali,” ucap Lilipaly, tersenyum sembari ngeloyor menuju bus.

Sebab itu pula, janjian khusus antara CNNIndonesia.com dengan Lilipaly untuk wawancara eksklusif, terpaksa batal. Sayang sekali memang. Tapi begitulah kebijakan yang harus dipatuhi pemain dan dihormati seluruh media.

Dalam sesi door stop itu, hanya Riedl yang maju untuk mewakili timnas Indonesia meladeni rentetan pertanyaan para wartawan di Stadion My Dinh.

Itulah latar belakang Riedl memberlakukan kebijakan yang lebih ketat lagi terkait ekspos media terhadap para pemainnya pada fase gugur Piala AFF 2016 kali ini.

Berbeda saat Riedl menangani timnas Indonesia pada Piala AFF 2014 lalu, kebijakan larangan pemain menjawab pertanyaan tak seketat saat ini. Media bahkan masih bisa menarik salah satu pemain timnas untuk diwawancara hingga sesi foto usai latihan, lazimnya ketika mereka sampai hotel.

Namun, bukan berarti Riedl melarang sepenuhnya para pemainnya untuk menjawab pertanyaan media. Ada waktu-waktu tertentu para pemain boleh meladeni pertanyaan.

Salah satunya, atau mungkin satu-satunya kesempatan, adalah usai pertandingan ketika para pemainnya melewati mixed zone. Memang, secara resmi seperti yang diatur FIFA hingga AFC, sesi itu merupakan tempat media untuk bisa mendapatkan komentar dari para pemain.

Soal pemain itu meladeni pertanyaan dari wartawan atau tidak, berpulang kepada kesediaan pemain yang bersangkutan.

Yang menarik, keluhan Riedl itu rupanya juga sampai ke telinga para jurnalis dari Vietnam. Mereka heran dengan media-media di Indonesia yang bisa membuat pelatih asal Austria itu kerap terusik.

“Saya lihat media-media di Indonesia memang terlalu agresif. Bahkan, banyak pula serangan-serangan berupa kritik ketika timnas kalian main tidak sesuai harapan publik,” ungkap jurnalis dari Voice of Vietnam Le Thanh Luong.

Menurutnya, media-media di Vietnam tidak sampai seagresif media di Indonesia dalam berburu berita karena mereka harus memikirkan pula kenyamanan narasumber yang bersangkutan. (ptr/ptr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK