Pada tahun 2004 silam, Indonesia bertemu Singapura di babak final. Saat itu, Indonesia difavoritkan jadi juara karena mampu mencetak 22 gol dalam perjalanan ke final dan hanya kebobolan tiga gol.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gol Daniel Bennett, Khairul Amri, dan Agu Casmir hanya mampu dibalas Mahyadi Panggabean di menit akhir laga. Alhasil, Singapura pulang dari Jakarta dengan membawa keunggulan 3-1.
Hal yang serupa terjadi di final tahun 2010. Asa Indonesia untuk bisa meraih titel juara sudah nyaris menguap usai leg pertama.
Pada edisi 2010 tersebut, Indonesia berganti bertindak jadi tim tamu terlebih dulu dengan bertandang ke Kuala Lumpur.
Sayangnya, Indonesia gagal tampil maksimal dan pulang dengan kekalahan telak 0-3.
Kekalahan dengan selisih tiga gol itu membuat langkah Indonesia menjadi berat meski ganti bertindak sebagai tuan rumah di leg kedua.
Indonesia yang tampil penuh tekanan bahkan sempat tertinggal 0-1 terlebih dulu sebelum Muhammad Nasuha dan Muhammad Ridwan membuat Indonesia mengakhiri pertandingan dengan kemenangan 2-1.
Meski demikian, hal itu tak cukup untuk mengantar Indonesia jadi juara karena Skuat Garuda kalah 2-4 dalam agregat secara keseluruhan.
Mimpi buruk itu yang harus bisa dihapus di kesempatan final yang didapat Indonesia kali ini.
Indonesia wajib memaksimalkan laga kandang lawan Thailand di leg pertama, 14 Desember sebagai modal kuat untuk pergi ke leg kedua, tiga hari kemudian saat Indonesia ganti bertindak jadi tim tamu.
Para pemain Indonesia sendiri sangat antusias menghadapi laga final lawan Thailand.
"Kami akan bermain dengan baik melawan mereka (Thailand). Kami akan menang di final karena kami selalu berpikir meraih kemenangan setiap pertandingan."
"Kami akan bangkit 100 persen melawan Thailand untuk meraih kemenangan," ucap gelandang Timnas Indonesia Stefano Lilipaly. (har)