Banyak faktor yang membuat Firman menyatakan kebanggaan dan kepuasannya meski Timnas Indonesia gagal jadi juara dan mematenkan status 'spesialis runner up' nya.
"Pencapaiannya luar biasa. Selama 1,5 tahun timnas Indonesia vakum, terus belum adanya liga resmi, PSSI juga melakukan pembatasan pemanggilan pemain yang hanya dizinkan dua di setiap klub. Bagi saya ini hasil yang memuaskan," kata Firman kepada CNNIndonesia.com, Minggu (18/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi, mari sama-sama kita berikan ucapan terima kasih kepada jajaran pelatih timnas, Alfred Riedl, ofisial dan para pemain yang luar biasa," ungkapnya.
Firman yakin, timnas Indonesia pasti bisa meraih prestasi yang lebih baik ke depannya. Asalkan, sebutnya, semua pihak mau saling mendukung mulai dari pembinaan dan lainnya.
Ke depannya, Firman berharap agar kekalahan di Piala AFF bisa jadi pelajaran berharga yang bisa dipetik hikmahnya.
"Rapihkan (pemain dan kompetisi) tingkat usia dini, karena Thailand juga terus belajar ketika Indonesia sedang 'tertidur'. Saya yakin kita bisa, asal semua mau berusaha memperbaiki sepak bola di Tanah Air," ujarnya.
Menurutnya, pekerjaan rumah terbesar PSSI ke depan adalah memerbaiki regenerasi dengan bergulirnya kompetisi yang sehat.
Sebab, imbuh Firman, Indonesia banyak memiliki potensi junior yang berbakat tapi hilang ketika masuk di jenjang senior.
"Coba lihat di usia dini, Indonesia prestasinya banyak tapi kenapa di senior kita merosot? Ya, itu karena Indonesia hanya mengejar target, bukan mengatur konsep pelan-pelan sehingga kita bisa mencapai juara."
"Tidak hanya urusan PSSI, tapi kita semua masyarakat sepak bola untuk turut membantu peningkatan prestasinya," pungkasnya. (bac)