"Jumlahnya lebih dari Rp700 juta. Kebanyakan denda itu ya dari perilaku suporter hampir 95 persen lah. Ada juga dari penggunaan flare (cerawat) di stadion. Kalau masalah pelanggaran kartu itu sedikitlah," kata Ferry melalui sambungan telepon kepada CNNIndonesia.com, Kamis (22/12).
Kendati demikian, Ferry menyebut denda itu merupakan konsekuensi yang harus diterima tim maupun manajemen klub. Pasalnya, setelah Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) yang menjadi kandang Persija Jakatya mengalami renovasi jelang perhelatan Asian Games 2018, Persija belum mendapatkan pengganti yang pas.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena kami main di luar kandang, setelah kami tidak bisa menggunakan GBK. Kalau main di luar kandang itu di luar kendali manajemen, kami main di tempat orang," kata Ferry.
Beruntungnya, Persija tidak perlu kesulitan untuk membayarkan denda tersbut kepada PT Gelora Trisula Semesta (GTS) sebagai operator. Pasalnya, jelang awal musim, masing-masing klub mendapatkan kontribusi komersial sebesar Rp5 Miliar yang akan diberikan di akhir musim, sehingga pembayaran sanksi bisa langsung dipotong dari dana komersial tersebut.
"Bukannya jadi mudah. Harusnya kami bisa surplus tapi gara-gara itu (sanksi denda) jadi tidak bisa," katanya.
Direktur PT Gelora Trisula Semesta (GTS) Joko Driyono mengatakan, total denda kepada tim selama turnamen ISC digelar mencapai lebih dari Rp3 triliun.
"Angka yang cukup fantastis. Saya rasa denda akibat pelanggaran disiplin lebih dari Rp3 miliar," kata Joko dalam jumpa pers musim terakhir ISC 2016, Rabu (21/12). (vws)