"Setidaknya dikasih kesempatan untuk mempresentasikan program pembinaan mereka seperti apa," kata Fakhri kepada CNNIndonesia.com, Selasa (27/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut mantan gelandang timnas Indonesia di dekade 1990an itu di bawah arahan Ketua Umum PSSI Letjen TNI Edy Rahmayadi, asosiasi sepak bola negara Indonesia saat ini punya kesempatan besar untuk bisa menentukan arah sepak bola. Terutama untuk menata pembinaan di semua level umur demi mendapatkan regenerasi tim nasional yang diharapkan.
"Ini tantangan buat kepengurusan sekarang. Selain mereka juga harus menjaga hubungan baik dengan stakeholder olahraga, terutama pemerintah," ujarnya.
Fakhri yang pernah memperkuat Timnas Indonesia di era 1986-1997 itu mengaku berempati dengan kesulitan mendapatkan pemain timnas kala Alfred Riedl dipercaya menjadi arsitek Tim Garuda di Piala AFF 2016 lalu. Apalagi pembentukan timnas itu dilakukan dalam waktu sempit setelah Indonesia terbebas dari sanksi FIFA.
"Sayang sekali, Riedl hanya dikasih kuota dua pemain dari masing-masing klub. Kalau dikasih lebih banyak lagi, bakal lebih banyak pemain junior berbakat yang ditemukan Riedl. Apalagi kita tidak punya pelapis timnas hingga saat ini."
"Seharusnya, di semua kelompok umur itu ada timnasnya, jadi mudah uintuk menemukan pemain pelapis," tukasnya. (kid)