Keputusan itu akhirnya mengubah target yang diberikan kepada para atlet. Eng menyatakan kini target tidak akan dibebankan kepada pasangan, melainkan pada perseorangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya masih ada waktu [di Pelatnas] sampai ke 2020. Saya juga belajar dari pengalaman sebelumnya yang hanya mengandalkan satu pasangan," sambungnya.
"Saya akan buat Keys Performance Index (KPI) buat masing-masing individu. Dan menentukan turnamen untuk masing-masing pasangan. Tapi, empat pasangan utama kan enggak mungkin saya kasih ikut [turnamen] level challange, minimal level Grand Prix," ungkap Eng Hian.
"Dari enam turnamen yang diikuti, minimal dapat dua gelar juara dan dua kali final. Kalau tidak memenuhi target bakal di rolling atau di degradasi," sebutnya.
Empat pasangan utama yang dimaksud Eng Hian yakni, Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari Korwa, Della Destiara Haris/Rosyita Eka Putri Sari, Tiara Rosalia Nuraidah/Rizky Amelia Pradipta, serta Anggia Shitta Awanda/Ni Ketit Mahadewi Istarani.
Dua pasangan lain yaitu Meirisa Cindy Sahputri/Nisak Puji Lestari dan Apriyani Rahayu/Yulfira Barkah.
Saat ini dalam ranking federasi bulutangkis dunia (BWF), Greysia/Nitya adalah yang tertinggi di antara ganda putri Indonesia. Greysia/Nitya menempati posisi kelima dunia. Kemudian di tempat ketiga adalah Della/Rosyita yang berada di urutan ke-15 BWF. Selanjutnya Anggia/Ketut di urutan 16 dan Tiara/Rizky ke-18.
(kid/bac)