Hasilnya luar biasa, karena di tangan dingin Cannavaro, Tianjin mampu menjuarai China League One dan promosi ke CSL. Itu sesuai dengan target yang dibebankan oleh manajemen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maklum saja, Cannavaro pernah gagal ketika menjadi pelatih Guangzhou Evergrande yang menggantikan mentornya di Juventus dan timnas Italia, Marcello Lippi sejak 5 November 2014. Ia dipecat Evergrande--yang merupakan tim elite CSL dan dipenuhi bintang--pada 4 Juni 2015 dan diganti Luiz Felipe Scolari.
Pertama adalah target Juventus dalam semusim terakhir, gelandang asal Belgia, Axel Witsel. Witsell yang masih berusia 27 itu direkrut dari Zenit St Petersburg dengan harga €20 juta.
Selanjutnya, Cannavaro mengincar penyerang utama klub Italia, Fiorentina, Nikola Kalinic. Penyerang asal Kroasia itu telah mencetak delapan gol dan satu assist dari 19 penampilan di Serie A, dan empat gol serta dua assist dari lima laga di Liga Europa.
Seperti dilansir Football-Italia, Kalinic yang saat ini baru berulang tahun ke-29 itu ditawar Tianjin dengan harga €45 juta. Dalam formasi 4-2-3-1, Cannavaro memang membutuhkan seorang penyerang utama setelah Luis Fabiano memilih tak memperpanjang kontrak ketika berhasil promosi.
Dikutip dari Sky Sport Italia, negosiasi Tianjin untuk mendapatkan Kalinic sejauh ini berpeluang berujung positif.
Kehadiran Kalinic tentu saja diharapkan bisa menjadi kenyataan dari ambisi Cannavaro mampu bersaing di CSL--setidaknya bukan hanya untuk bertahan di kompetisi kasta tertinggi tersebut. (bac)