Bersama Cambuur, Lilipaly masih akan bermain di Jupiler League (Eerste Divisie), atau satu level di bawah kompetisi teratas. Pemain 27 tahun itu pada musim lalu juga merumput di kompetisi yang sama bersama dengan SC Telstar.
Cambuur sendiri tergolong 'belia' jika dibandingkan dengan klub-klub Eropa lainnya atau bahkan di Belanda sendiri. Kesebelasan yang berbasis di kota Leeuwarden itu didirikan pada 1964, atau hanya satu dekade setelah sepak bola Belanda memiliki kompetisi profesional.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lilipaly yang ketika bermain di Timnas sangat menyenangi penggemar fanatik Indonesia, juga akan menemui gairah serupa di atas tribun Stadion Leeuwarden. Stadion itu terkenal dengan atmosfer penontonnya yang riuh meski hanya memiliki kapasitas 10 ribu.
Bahkan, laga-laga penting Cambuur juga tak jarang memecahkan rekor rating televisi untuk kelas klub Jupiler League. Salah satunya adalah ketika Cambuur menghadapi Roda JC untuk memperebutkan tiket promosi ke Liga Belanda pada musim 2009/2010.
Lilipaly sendiri pindah di saat yang tepat ke SC Cambuur karena kesebelasan itu sedang menjalani masa-masa terbaiknya di sepak bola Belanda.
Pada tiga dari empat musim terakhirnya, Cambuur menghabiskan waktu di kompetisi teratas Liga Belanda. Musim 2016/2017 adalah pertama kalinya Cambuur kembali ke Jupiler League setelah menelan pil pahit degradasi.
Cambuur juga punya prestasi yang lebih baik ketimbang klub Lilipaly sebelumnya, Telstar. Jika Telstar lebih sering berkutat di papan tengah, sejak 2008 lalu Cambuur minimal berada di peringkat tujuh ketika berada di Jupiler League. (har)