Entah apa yang ada di benak Pobga usai Manchester United ditahan imbang Stoke City 1-1 pada lanjutan Liga Primer Inggris, Sabtu (21/1). Yang pasti, gelandang dengan banderol pemain termahal di dunia itu bermain buruk.
Layaknya seorang komponis memimpin sebuah orkestra, Pogba mendapat panggung dari Jose Mourinho untuk menjadi pengatur serangan ketika melawan Stoke. Panggung pembuktikan dirinya pantas dibanderol mahal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Seperti ada banyak pertanyaan di benak Pogba ketika mengontrol bola. 'Apakah saya harus menggocek? Apakah saya harus mengumpan? Apakah saya harus coba menendang ke gawang?'.
Jika melihat penampilan Pogba ketika melawan Stoke, sepertinya MU salah menjadikan gelandang 23 tahun itu sebagai pemain termahal di dunia setelah dibeli dari Juventus dengan transfer 105 juta euro.
Pogba merupakan pemain pertama asal Perancis sejak Zinedine Zidane pada 2001 yang menjadi pesepakbola termahal di dunia. Tidak adil memang untuk membandingkan Zidane dengan Pogba.
Lihat juga:Catatan di Balik Rekor Gol Wayne Rooney |
Tidak dipungkiri lagi Pogba memiliki talenta untuk menjadi pesepakbola terbaik dunia suatu saat ini. Namun, mantan pemain tim akademi Le Havre itu harus bisa membagi fokus antara kariernya sebagai pesepakbola dengan kehidupan di luar lapangan.
Belakangan Pogba lebih banyak mendapat perhatian karena gaya rambut atau keberhasilannya menjadi pemain pertama Liga Primer yang mendapat emoji, daripada penampilan apiknya di atas lapangan. (bac)