Untuk diketahui ada sekitar 10 kesepakatan kerja sama yang sudah final dan akan ditandatangani Raja Salman dengan Presiden RI Joko Widodo dalam kunjungannya ini. Sayang tak ada satu pun yang menyangkut kerja sama di bidang olahraga.
Baca: Raja Salman dan Jokowi Akan Teken 10 Kesepakatan Kerja Sama
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam lingkungan sepak bola internasional, Arab Saudi sempat disebut sebagai Brasil-nya Asia ketika kali pertama menembus putaran final Piala Dunia pada 1994.
Arab lolos sebagai runner-up grup F dengan dua kemenangan atas Belgia dan Maroko. Performa kesebelasan yang bertumpu pada penyerang Sami Al Jaber tersebut dinilai mampu menampilkan aksi-aksi individu ibarat goyang samba para pemain Brasil.
Setelah itu dalam kurun tiga gelaran Piala Dunia selanjutnya, Arab selalu lolos ke putaran final meski kerap terhenti di fase grup.
Dalam dua gelaran terakhir Arab tak pernah lagi tampil di putaran final Piala Dunia.
Legenda sepak bola Arab, Sami Al Jaber, saat berpose dengan Piala Teluk 2002 bersama pangeran Sultan bin Fahd (tengah) dan Gubernur Riyadh saat itu Salman bin Abdulaziz Al Saud, 30 Januari 2002. Salman kini merupakan Raja di Arab Saudi. (AFP PHOTO/Bilal QABALAN) |
Arab adalah tim kedua tersukses meraih trofi Piala Asia yakni tiga kali. Tim terbanyak meraih supremasi tertinggi sepak bola antarnegara Asia adalah Jepang.
Namun trofi terakhir diperoleh pada 1996 silam kala digelar di Uni Emirat Arab. Berkaca dari hasil tersebut, di tingkat negara, Arab kesulitan berprestasi internasional lagi sejak berganti abad.
Timnas dengan julukan Al-Suqour atau Elang tersebut dua kali menembus final namun kalah dari Jepang (2000) dan Irak (2007).
Pada abad yang baru ini sepak bola Arab hanya bisa menyalak di tingkat internasional lewat klub.
Lihat juga:Piala Brasil Akan Gunakan Kartu Hijau |
Hanya ada tiga klub liga sepak bola Arab berhasil menembus babak final gelaran Liga Champions Asia sepanjang abad XXI. Tiga tim itu adalah Al-Ittihad, Al-Ahli, dan Al-Hilal.
Al-Ittihad menjadi yang tersukses dari Arab Saudi sepanjang abad ini dengan lima kali final dan dua kali jadi juara. Sementara Al-Ahli hanya sekali menembus final dan kalah dari Ulsan Hyundai pada 2012 silam.
Ketika turnamen Liga Champions Asia mulai menerapkan sistem kandang-tandang sejak 2014 silam hanya Al-Hilal yang menembus final.
Sayang Al-Hilal kalah dari lawannya di babak final, tim asal Australia, Western Sydney Wanderers pada 2014 silam.
Winger Arab Saudi Salem Al-Dawsari (kiri) bersama klubnya, Al Hilal, merupakan tim terakhir asal Arab Saudi yang berlaga di final Liga Champions Asia pada 2014 silam. (AFP/William West) |
"Nama saya adalah Mark Clattenburg. Saya berasal dari kota bernama Newcastle. Siapapun yang tahu soal Inggris, paham bahwa kami memiliki tim terbaik di negara itu. Baru-baru ini saya dipilih sebagai wasit terbaik di dunia, karena itu saya akan membawa banyak pengetahuan dan gairah untuk meningkatkan kemampuan dan pendidikan wasit di Arab Saudi," tutur Clattenburg.
"Saya merasa terhormat mendapat kesempatan untuk mendukung dan membimbing wasit, untuk menggunakan pengalaman dalam memimpin sejumlah pertandingan dan membawa wasit-wasit dari seluruh dunia untuk meningkatkan standar di sini."
(kid/bac)
Legenda sepak bola Arab, Sami Al Jaber, saat berpose dengan Piala Teluk 2002 bersama pangeran Sultan bin Fahd (tengah) dan Gubernur Riyadh saat itu Salman bin Abdulaziz Al Saud, 30 Januari 2002. Salman kini merupakan Raja di Arab Saudi. (AFP PHOTO/Bilal QABALAN)
Winger Arab Saudi Salem Al-Dawsari (kiri) bersama klubnya, Al Hilal, merupakan tim terakhir asal Arab Saudi yang berlaga di final Liga Champions Asia pada 2014 silam. (AFP/William West)