Putra Permata Tegar Idaman
Menggemari bulutangkis dan mengagumi Roberto Baggio sejak kecil. Pernah bekerja di harian Top Skor dan Jakarta Globe. Kini menjadi penulis di kanal olahraga CNN Indonesia

Kevin/Marcus dan Baris Depan yang Masih Renggang

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Senin, 13/03/2017 17:00 WIB
Kevin/Marcus dan Baris Depan yang Masih Renggang Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon berhasil mencatat sejarah besar dengan merebut titel All England perdana dalam karier mereka. (Reuters / Andrew Boyers)
Jakarta, CNN Indonesia -- Duet ganda putra Indonesia melempar raket, berjatuhan di lapangan, dan akhirnya berpelukan di arena All England. Gaya perayaan juara yang sudah sering terlihat, namun kali ini terasa istimewa karena yang melakukannya adalah Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon.

Dalam satu dekade terakhir, nama Liliyana Natsir dan Hendra Setiawan adalah nama yang paling sering keluar sebagai penyelamat wajah Indonesia, baik ketika berduet dengan Nova Widianto dan Markis Kido, maupun dengan Tontowi Ahmad dan Mohammad Ahsan.

Nama-nama itulah yang kemudian sering muncul sebagai penyelamat Indonesia di berbagai kejuaraan besar seperti Olimpiade, Kejuaraan Dunia, hingga All England.

Seiring dengan makin menuanya Liliyana, Hendra, Tontowi, Ahsan, dan juga Greysia Polii dan Nitya Krishinda Maheswari, kekhawatiran pun menyelinap di sela-sela kegembiraan dan kekaguman akan konsistensi mereka sebagai pemain bintang.

Regenerasi sudah selalu jadi kata yang digaungkan tiap kali berbicara mengenai prestasi. Dan yang penting untuk diingat, Pengurus Pusat Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia alias PP PBSI tak pernah berdiam diri untuk hal ini.

Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon berhasil mengatasi tekanan besar saat jadi satu-satunya wakil yang tersisa di babak semifinal.Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon berhasil mengatasi tekanan besar saat jadi satu-satunya wakil yang tersisa di babak semifinal. (Dok. PBSI)

Sejak para bintang bulu tangkis Indonesia dekade ini meraih prestasi demi prestasi, PBSI, di era siapapun, tak pernah berhenti mengundang pemain muda untuk bergabung ke pelatnas Cipayung.

Kesempatan untuk berkompetisi pun selalu diberikan sepanjang tahun, tentunya sesuai dengan kapasitas dan kemampuan sang pemain.

Ketika ada pertanyaan mengemuka mengapa pemain muda tak dikirimkan ke turnamen level super series lebih rutin, maka jawabannya adalah peringkat dunia yang masih memprihatinkan.

Regenerasi memang jadi suatu hal yang dinanti, namun bukan kepastian yang bisa digaransi. Para pemain muda harus unjuk gigi dan membuktikan kemampuan, bukan hanya sekadar tampil sebagai ujung tombak lantaran keadaan memaksa.

Bukan salah para pemain senior bila mereka terus-menerus jadi andalan, karena itu semua bisa terjadi lantaran junior mereka belum bisa diberi beban berlebihan.

Secara umum, catatan pemain Indonesia di All England 2017 ini pun tak sepenuhnya memuaskan. Para pemain Indonesia sudah jatuh bergulingan di dua babak awal.

Saat masuk delapan besar, Indonesia hanya berharap pada dua nama, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir dan Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon.

Bermain dengan Kegembiraan

Kevin/Marcus berdiri sendirian di babak semifinal setelah Tontowi/Liliyana tersisih di babak delapan besar. Beban jelas ada di pundak Kevin/Marcus, seiring dengan munculnya pula sebuah harapan.

Tetapi yang jelas tersaji di lapangan adalah Kevin/Marcus yang bermain penuh gairah. Tak ada Kevin/Marcus yang bermain dengan gelisah, yang ada hanya sepasang ganda muda yang bermain tanpa lelah.

Kevin dan Marcus bermain dengan kegembiraan. Mereka meloncat, berlari, dan menjangkau shuttlecock ke seluruh penjuru lapangan.

Tinggi badan yang jadi perbedaan besar saat menghadapi Mads Pieler Kolding/Mads Conrad Petersen dan Li Junhui/Liu Yuchen bukanlah gambaran perbedaan kemampuan.

Kevin/Marcus justru tampil agresif dan menunjukkan bahwa kemenangan di lapangan bulu tangkis tak bergantung pada tinggi badan.

Gelar juara All England diyakini bakal menambah kepercayaan diri Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon di masa depan.Gelar juara All England diyakini bakal menambah kepercayaan diri Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon di masa depan. (Reuters / Andrew Boyers)

Tak pernah ada rasa rendah diri dalam air muka Kevin/Marcus sepanjang laga. Mereka selalu menatap lawan dengan tajam dan memberi intimidasi lewat sejumlah gerakan provokasi.

Kevin/Marcus menunjukkan bahwa mereka tipe ganda yang bisa membuat penonton ikut larut dalam semua suasana, baik ketika mereka menyerang atau bahkan ketika nekat mengambil risiko tinggi yang berujung pada kesalahan.

Saat raket mereka lempar ke udara usai memastikan angka 21 di gim kedua laga final, ketika itu pula mereka memastikan bahwa Indonesia terhindar dari kata 'gagal'.

Tahun Krusial Bagi Indonesia

Munculnya nama Marcus/Kevin sebagai juara All England tahun ini tak sepenuhnya kejutan besar. Marcus/Kevin telah merintis jalan karier sebagai bintang lewat torehan manis mereka di tahun sebelumnya.

Pada 2016, Marcus/Kevin merebut tiga titel super series/premier, sejajar dengan Tontowi/Liliyana sebagai pengoleksi gelar super series/premier terbanyak tahun lalu.

Gemerlap prestasi Kevin/Marcus di 2016 adalah bukti bahwa Kevin/Marcus mampu menunjukkan konsistensi dari pekan ke pekan dan dari pertandingan ke pertandingan. All England 2017 adalah bukti bahwa nama mereka berdua bisa semakin harum di masa depan.

Tahun 2017 ini merupakan tahun krusial bagi peta persaingan bulu tangkis dunia. Nama-nama baru dari negara-negara bulu tangkis mulai muncul ke permukaan. Barisan pebulu tangkis muda Indonesia pun harus segera siap merespon tantangan.

Liliyana, Hendra, Tontowi, Ahsan, Greysia, dan Nitya tak selamanya bisa terus berada di barisan depan dan menerima harapan, beban, hingga kritikan.

Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon dan para pemain muda lainnya bakal menerima beban lebih besar di kejuaraan-kejuaraan mendatang.Kevin Sanjaya/Marcus Fernaldi Gideon dan para pemain muda lainnya bakal menerima beban lebih besar di kejuaraan-kejuaraan mendatang. (Dok. PBSI)

Kevin Sanjaya Sukamuljo, Marcus Fernaldi Gideon, Praveen Jordan, Anthony Ginting, Jonatan Christie, Ihsan Maulana Mustofa, dan pemain muda lainnya harus sadar bahwa merekalah yang kelak bertanggung jawab menjaga nama Indonesia tetap elite di tengah keketatan persaingan.

Nanti mereka lah yang akan berdiri di barisan depan dan menjadi tulang punggung dalam perjalanan Tim Bulu Tangkis Indonesia di tiap turnamen dan kejuaraan. Bila jajaran pemain muda terus menunjukkan kehebatan, maka wajah bulu tangkis Indonesia akan terlihat menawan.

Kevin/Marcus sukses menunjukkan itu di All England, namun secara garis besar, masih banyak yang harus dilakukan para pemain muda agar nama Indonesia tak hilang dari peredaran.
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS