Semangat Nasionalisme Edu Nabunome Saat Terbaring di RS

Putra Permata Tegar Idaman , CNN Indonesia | Rabu, 29/03/2017 20:27 WIB
Semangat Nasionalisme Edu Nabunome Saat Terbaring di RS Eduardus Nabunome sudah terlihat lebih segar pada hari Selasa (29/3). (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar Idaman)
Jakarta, CNN Indonesia -- Lantai enam RSUD Pasar Rebo terlihat lengang dan sepi, jauh berbeda dengan beberapa lantai di bawahnya yang ramai oleh pasien rawat jalan. Di sebuah ruangan, terdapat seorang lelaki yang dulu jadi raja lari jarak jauh Asia Tenggara, Eduardus Nabunome.

Eduardus terbaring di ranjang RSUD Pasar Rebo. Meski baru saja keluar dari ICU (Intensive Care Unit) sehari sebelumnya, tak terlihat bahwa pria tersebut masih lemah tak berdaya. Sorot mata Eduardus begitu kuat meski ia masih harus menyandarkan kepalanya pada kasur sepanjang obrolan dengan CNNIndonesia.com, Rabu (29/3).

"Ketika saya masuk rumah sakit, banyak yang heran karena selama ini saya sering disebut tak punya pusar (istilah orang kuat yang jarang sakit)," kata Eduardus.

Eduardus merasakan ada yang tak beres dengan tubuhnya sejak dua minggu lalu. Namun, ia menganggap hal itu hanya sakit ringan seperti masuk angin.

Kengototan Eduardus untuk menghiraukan rasa sakitnya terus bertahan hingga hari Jumat, 24 Maret. Ia bahkan masih menyusun program untuk klub atletik miliknya hingga pukul 5 pagi.

"Saya keasyikan menyusun program hingga pukul 5 pagi dan baru setelah itu bersiap untuk istirahat sebentar sebelum berangkat memimpin latihan."

"Pukul enam rasa sakit menyerang saya. Saya kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Haji Pondok Gede dan kemudian dirujuk ke sini," ujar Eduardus.

Eduardus Nabunome saat dikunjungi oleh pengurus PASI DKI Jakarta.Eduardus Nabunome saat dikunjungi oleh pengurus PASI DKI Jakarta. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar Idaman)
Menurut istri Eduardus, Marcelina Ina Piran, ada penyumbatan aliran darah ke jantung. Setelah sempat keluar dari ICU pada Senin sore, Eduardus kembali harus masuk ICU beberapa jam kemudian.

"Kalau sekarang kondisinya sudah lebih baik dan sudah merasa lebih enak," tutur Marcelina.

Ingatan yang Tajam

Eduardus tak terlalu antusias membicarakan sakit yang dideritanya. Namun ketika pembicaraan dialihkan tentang masa-masa emasnya sebagai atlet, Eduardus sangat antusias bercerita. Kata-kata begitu lancar keluar dari mulutnya.

Tak hanya itu, Eduardus masih ingat jelas kemenangan-kemenangan yang pernah ia dapatkan dalam kariernya. Sebagai pelari jarak jauh, Eduardus total meraih enam medali emas dan lima perak dalam perhelatan SEA Games dari 1985-1999.

"Saya tak bisa ikut SEA Games 1993 dan 1995 karena cedera," ujar Eduardus mengenang.

Salah satu hal yang paling mencolok adalah rekor maraton SEA Games yang masih jadi miliknya. Rekor 2 jam 20 menit 17 detik itu dicatat pada 1997 dan itu berarti tahun ini rekor tersebut akan berusia 20 tahun.

"Saya sulit menjawab bila ditanya apakah saya bangga atau justru malah bingung dengan fakta bahwa rekor saya masih bisa bertahan hingga saat ini. Hal itu lebih tepat ditanyakan kepada induk organisasi yang bertugas mencetak atlet-atlet muda," tutur pria kelahiran 12 April 1968.

Eduardus Naubunome begitu bersemangat saat bercerita tentang olahraga Indonesia.Eduardus Naubunome begitu bersemangat saat bercerita tentang olahraga Indonesia. (CNN Indonesia/Putra Permata Tegar Idaman)
Meski tak menjawab dengan detail tentang rekor yang bertahan hingga saat ini, Eduardus mengungkapkan kunci rahasianya jadi raja lari jarak jauh Asia Tenggara.

"Saya bukan hanya berlari dengan kaki, tetapi juga dengan otak. Saya tahu apa yang harus saya lakukan, bukan hanya tentang berlari sekuat tenaga, melainkan juga tentang bagaimana mengatur ritme lari dan strategi," ucap Eduardus.

Keseimbangan Atlet

Eduardus terus bersemangat saat menceritakan pandangannya tentang dunia atlet di Indonesia. Ia menilai setiap atlet di Indonesia seharusnya juga dibekali oleh pendidikan yang layak.

"Seharusnya sudah tidak ada lagi pembicaraan tentang atlet harus memilih karier sebagai atlet atau pendidikan. Kedua hal tersebut bisa berjalan beriringan."

"Bila atlet mendapatkan pendidikan yang bagus, hal itu akan menunjang performanya saat beraksi di lapangan. Hal itu juga berguna bagi kehidupan usai jadi atlet," ujar Eduardus memberikan penilaian.

Eduardus sendiri adalah sosok dengan gelar S2 Administrasi Negara. Ia bisa bekerja dengan baik setelah tak lagi menjalani hari-harinya sebagai atlet.

"Saya lebih senang atlet diberi kesempatan kerja dibandingkan sekadar bonus semata. Namun untuk bisa kerja dengan layak, tentunya atlet juga harus punya latar belakang yang bagus."

"Tak mungkin negara menempatkan seorang atlet juara di posisi yang tak layak dalam sebuah perusahaan. Namun bila menempatkan mantan atlet di posisi yang bagus, hal itu juga pastinya dibutuhkan kemampuan yang sesuai. Karena itu pendidikan dan karier atlet harus berjalan seiringan," ucap pria asal Nusa Tenggara Timur ini.

Eduardus ingin atlet punya posisi yang tetap tinggi di mata masyarakat, baik Indonesia maupun internasional, ketika ia sudah tak lagi beraksi di lapangan.

"Karena itu saya menolak bentuk bantuan yang sifatnya seperti dikasihani, bukan berupa penghargaan atas prestasi. Saya lebih baik menerima uang yang lebih kecil namun saya diundang ke acara dan diperkenalkan sebagai orang yang pernah membawa harum nama bangsa."

"Hal itu saya lakukan bukan demi saya saja, melainkan juga demi negara. Saya tak ingin negara luar melihat atlet Indonesia jadi sosok yang merana di masa tuanya," kata Eduardus.