Koller bukan pemain tertinggi yang pernah ada dalam sejarah dunia sepak bola, namun ia merupakan salah satu pemain yang mudah diingat karena postur tinggi-besar yang dimilikinya diimbangi kualitas mencetak gol yang menawan. Big Dino itulah julukan untuk Koller karena postur tubuhnya.
Setelah mengawali karier sepak bolanya sebagai kiper, Koller memutuskan untuk berpindah posisi menjadi striker. Ia pun kemudian malang melintang dari negara ke negara, mulai dari klub kampung halaman di Sparta Praha, lalu berlanjut ke Lokeren, Anderlecht, Borussia Dortmund, AS Monaco, Nurnberg, Krylia Sovetov Samara, dan Cannes.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keberhasilan Jan Koller jadi pencetak gol terbanyak Liga Belgia mengundang perhatian Borussia Dortmund. (AFP PHOTO / BELGA / YVES BOUCAU) |
Tetapi jangan membayangkan bahwa Koller hanya memiliki sundulan kepala sebagai senjata. Koller juga punya kemampuan olah bola yang mumpuni. Ia bisa menggiring bola dari luar kotak penalti, menyeruak masuk dan melepaskan tembakan keras. Tubuh raksasa milik Koller membuatnya sulit dihentikan lawan saat menggiring bola.
Walaupun berbobot besar, Koller juga piawai dalam mencari posisi di kotak penalti. Ia sering mencetak gol hanya dengan sentuhan ringan memanfaatkan umpan matang rekan setim yang dikirimkan kepadanya. Salah satunya kala mempecundangi kiper Belanda, Edwin van der Sar dalam kualifikasi Piala Eropa 2000 pada November 1999 silam. Menerima bola dari Pavel Nedved di kotak penalti, Koller yang telah berhadap-hadapan dengan Van der Sar melakukan feint untuk mengecoh sang kiper dan mencetak gol.
Selain aksinya di garis depan, satu hal lain yang patut dikenang dari Koller adalah ia pernah jadi penjaga gawang dadakan dalam big match Dortmund lawan Bayern Munich pada musim 2002/2003.
Saat Jens Lehmann dikeluarkan wasit dan pergantian pemain Dortmund telah habis, Koller menunjukkan sisa-sisa kepiawaiannya sebagai penjaga gawang di menit ke-67. Meski Dortmund kalah 1-2 di akhir pertandingan, tetapi Koller sukses tampil brilian dan tak kebobolan oleh barisan striker Munich.
Tolok ukur bahwa Koller tak sepatutnya hanya dikenal lewat sosok raksasa-nya saja adalah statusnya sebagai penyerang tersubur dalam sejarah Timnas Rep.Ceko. Koller membuktikan bahwa ia memang salah satu sosok striker sejati yang juga patut dinilai dari gol-golnya.
Koller mencetak 55 gol untuk Timnas Rep.Ceko sepanjang kariernya. Ia lebih tajam dari barisan striker hebat Rep.Ceko lainnya seperti Milan Baros (41), Vladimir Smicer (27), Tomas Rosicky (23), dan Pavel Kuka (22). Umur rekor gol Koller sendiri sepertinya masih akan bertahan lama lantaran sejauh ini belum ada pemain aktif Rep.Ceko yang memiliki gol mendekati Koller.
Sayangnya, Koller dan bintang lainnya seperti PaveL Nedved, Baros, Smicer, Petr Cech, Rosicky, hingga Marek Jankulovski gagal membawa Rep.Ceko berjaya di pentas internasional. Prestasi terbaik mereka adalah semifinal Piala Eropa 2004.
Jan Koller dan kawan-kawan kalah dari Yunani di semifinal Piala Eropa 2004. (AFP PHOTO / JOE KLAMAR |
“Sejak April, saya memiliki banyak masalah terkait cedera. Saya rasa itu adalah peringatan terakhir bagi saya untuk pensiun. Saya sudah mempersiapkan momen ini sejak lama dan kini hal itu telah tiba,” kata Koller.
Di usianya kini yang menginjak 44 tahun, Koller sepatutnya bangga atas pencapaian yang telah diraihnya sebagai seorang pesepakbola. Raksasa Rep.Ceko itu telah menorehkan tinta emas dalam sejarah sepak bola negaranya. Selamat ulang tahun Jan Koller!
Keberhasilan Jan Koller jadi pencetak gol terbanyak Liga Belgia mengundang perhatian Borussia Dortmund. (AFP PHOTO / BELGA / YVES BOUCAU)
Jan Koller dan kawan-kawan kalah dari Yunani di semifinal Piala Eropa 2004. (AFP PHOTO / JOE KLAMAR