Dika Dania Kardi
Lulusan Ilmu Jurnalistik di Universitas Padjadjaran. Mengawali karier wartawan profesional bersama surat kabar Media Indonesia. Kini menjadi jurnalis untuk CNN Indonesia.

'Veni, Vidi, Vici' Versi Antonio Conte

Dika Dania Kardi, CNN Indonesia | Sabtu, 13/05/2017 16:04 WIB
'Veni, Vidi, Vici' Versi Antonio Conte
Jakarta, CNN Indonesia -- Episode Kekaisaran Romawi sebagai penakluk mengenal istilah latin: Veni, vidi, vici. Tiga kata itu bermakna: saya datang, saya lihat, saya menang.

Frasa latin itu identik dengan Julius Caesar, Kaisar Romawi. Itu merupakan frasa yang ditulis Julius Caesar dalam surat kepada Senat Romawi pada sekitar 47 SM setelah memenangi pertempuran Zela.

Frasa yang dilontarkan raja kerajaan yang kini kita kenal sebagai Italia selanjutnya menjadi istilah untuk kejayaan penaklukan. Makna dari istilah itu berarti kemenangan yang didapat saat kedatangan kali pertama.

Frasa yang dilontarkan Julius Caesar itu cocok untuk menggambarkan sukses Antonio Conte di Inggris. Juru taktik asal Italia itu mampu membawa Chelsea menjadi juara Liga Primer di musim debutnya berada di Inggris. Veni, vidi, vici ala Conte.

Ia direkrut Chelsea setelah kerjanya bersama timnas Italia berakhir di Piala Eropa 2016. Dia diwarisi tim yang kembali solid di bawah asuhan manajer sementara Guus Hiddink menyusul pemecatan Jose Mourinho di tengah musim 2015/16.

Bersama Conte, separuh musim 2016/17, Chelsea tampil biasa saja. Sempat memuncaki klasemen di pekan ketiga, performa Chelsea menurun setelah ditaklukkan beruntun oleh Liverpool dan Arsenal. Dua kekalahan itu, serta hasil imbang 2-2 melawan Swansea City, membuka mata Conte.

Conte sadar timnya terlalu mudah kebobolan dengan pakem dua bek sentral. Dia butuh tiga bek, namun Leonardo Bonucci gagal dibawanya dari Juventus. Conte sempat kesulitan mencari potongan terakhir untuk menyempurnakan pakem yang buat ia sukses bersama Juventus dan timnas Italia.

Di Chelsea, Conte memiliki pilihan empat bek di tim senior yang kerap bermain di posisi sentral pertahanan: John Terry, Gary Cahill, David Luiz, dan Kurt Zouma. Terry veteran dan mudah cedera, sementara Zouma minim pengalaman dan mudah melakukan blunder.

Conte butuh rencana untuk menggunakan pakem tiga bek dengan pelapis yang seimbang. Akhirnya, Cesar Azpilicueta yang sepanjang kariernya kerap berperan sebagai bek sayap digeser ke tengah. Lantas untuk posisi sayap, dia memanfaatkan Victor Moses di kanan dan Marcos Alonso di kiri. Itu adalah skuat intinya.

Format tiga bek membutuhkan gelandang bertahan yang kuat. Conte beruntung bisa mendapatkan N'Golo Kante dari Leicester City. Gelandang asal Perancis itu menjadi motornya di lini tengah. Sementara Nemanja Matic sebagai jangkar menghalau bola udara dari lapangan tengah.

Butuh waktu untuk menunjukkan keberhasilan eksperimen Conte. Sempat terpuruk ke peringkat delapan pada Oktober silam, Chelsea terus menanjak dan berada di papan atas saat tahun berganti.

Pakem 3-4-3 Conte berbuah positif. Bahkan peran tiga bek sentral itu mulai menarik minat manajer lain di Liga Primer seperti Mauricio Pochettino, Jose Mourinho, Arsene Wenger, dan Juergen Klopp untuk mencobanya.

Conte membawa tren pakem tiga yang tak wajar ke Inggris. Tapi, mantan juru taktik Juventus itu lebih sempurna. Kesempurnaan yang tak lepas dari melempemnya performa Arsenal, Liverpool, dan Manchester City setelah tahun berganti.

Kini Chelsea telah juara. Conte bisa mengirim surat ke Italia seperti Julius Caesar seraya menulis frasa bahasa latin: Veni, vidi, vici.

Conte adalah pelatih kesepuluh dari Italia yang mengadu nasib di Inggris. Di antara 11 pelatih itu empat di antaranya termasuk Conte, sukses menyumbang trofi Liga Primer. Selain Conte, mereka adalah Claudio Ranieri (Leicester City 2015/16), Roberto Mancini (Manchester City 2011/12), dan Carlo Ancelotti (2009/10).

Namun, hanya Conte dan Ancelotti yang memenangkan trofi di musim debutnya bersama Inggris. Uniknya kedua nama yang pernah berperan sebagai pelatih di Juventus itu sama-sama bisa membawa Chelsea juara liga sebagai juru taktik.

Dan, Conte berpeluang menyamai prestasi Ancelotti di musim debut dengan mengawinkan trofi Liga Primer dan Piala FA. Pasalnya, Chelsea bakal bertarung dengan Arsenal di partai puncak Piala FA musim ini, 27 Mei 2017.
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS