Arby Rahmat
Berbekal Ilmu Hubungan Internasional dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung, laki-laki bertinggi badan 192 sentimeter ini mulai terjun ke dunia jurnalis bersama CNNIndonesia.com sejak 2014.

Karena McGregor adalah Ali

Arby Rahmat, CNN Indonesia | Sabtu, 26/08/2017 15:40 WIB
Karena McGregor adalah Ali Conor McGregor akan menghadapi Floyd Mayweather Jr. dalam pertandingan tinju -- cabang yang sebelumnya belum pernah ia jajal. (Ethan Miller/Getty Images/AFP)
Jakarta, CNN Indonesia -- Ada hal yang saya harapkan dalam salah satu pertarungan besar abad ini antara Conor McGregor melawan Floyd Mayweather Jr, yaitu kehadiran sosok Muhammad Ali dalam diri McGregor.

Saya sendiri terkesan saat pertama kali mengetahui McGregor. Seorang kawan semasa kuliah mengenalkan petarung modis tersebut lewat beberapa video yang ia unggah pada 2015. Kesombongannya di area oktagon tampak keren dan berani. Di luar ring, McGregor layaknya anak orang kaya yang suka menghambur-hamburkan uang.

Seiring dengan berjalannya waktu, McGregor terlihat kian istimewa. Lama kelamaan, saya pikir ia tampak seperti Muhammad Ali masa kini. Petarung bermulut besar. Terutama ketika dia sedang berceloteh tiada titik bak burung beo. Celotehannya kebanyakan seputar merendahkan kekuatan lawan, atau menyombongkan kebesaran dirinya. Jangan harap bisa memotong perkataannya ketika dia sedang berkicau tiada henti.

McGregor adalah orang yang selalu bicara tentang law of attraction. Artinya apa? Ketika McGregor berbicara tentang sesuatu -- terutama tentang cara lawannya akan kalah -- dia selalu yakin hal itu akan terjadi. Visualisasi dari imajinasinya seakan menjadi nyata dalam benak, hingga ia memanifestasikannya di dalam oktagon atau arena pertarungan UFC.

Ini yang membuat pertarungan dari petarung modis tersebut menarik disaksikan.

Salah satu kepandaiannya dalam meramal hasil pertarungan adalah pada Desember 2014. Kala itu, dalam sebuah wawancara, McGregor mengatakan kalau dia memprediksi petarung Brasil Jose Aldo yang menjadi calon lawannya, akan mundur sebelum pertandingan.

Betul saja, 18 hari sebelum pertandingan, Aldo mengundurkan diri karena cedera. Walaupun dokter UFC sudah memberikan izin agar pertarungan tetap digelar atau istilahnya 'medically cleared', namun Aldo tetap mundur.

Ramalan lainnya adalah ketika petarung Amerika Serikat Chad Mendes muncul menggantikan Aldo untuk melawan McGregor. Banyak yang bilang McGregor akan kalah karena beberapa hal. Pertama adalah karena McGregor sama sekali belum pernah bertemu pertarung dengan basic pegulat. Kedua, waktu dua pekan terlalu singkat untuk persiapan melawan Mendes.

Kendati begitu, McGregor dengan percaya diri menyampaikan kepada media bahwa dia akan menguras stamina Mendes di dalam oktagon sebelum memukulnya dan menang TKO pada ronde pertama. Dan percaya atau tidak, McGregor betul-betul membuktikan perkataannya.

Dia 'sombong', karena tahu dirinya lah yang terhebat dalam bertarung di dalam oktagon. Kesombongan yang ia tampilkan pun -- dalam pandangan saya -- untuk meninggikan mental bertarung. Persis seperti Ali. Bedanya, gaya bicara McGregor sedikit lebih kasar ketimbang Ali.

Siapa yang tidak kenal Ali? Legenda tinju kelas berat asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai yang terhebat sepanjang masa.

"Melayang seperti kupu-kupu, menyengat seperti lebah," kata Ali sebelum pertarungan melawan Sony Liston di Convention Center, Miami Beach, Florida, Amerika Serikat pada 25 Februari 1964. Itu adalah kutipan Ali paling terkenal saat pertama kali merebut gelar WBC, The Ring, dan kelas berat lineal.

Ali dan McGregor sama-sama banyak bicara. Akan tetapi, mereka sama-sama membuktikan ucapan mereka lewat penampilan di dalam ring dan oktagon.

Ali dan McGregor sama-sama raja dalam mempermainkan pikiran lawan atau perang urat saraf (mind games). Semakin Ali --atau mungkin juga McGregor-- yakin pada bualannya masing-masing, semakin percaya diri dan kuat mereka di atas ring.

Memang, McGregor sendiri menampik sebutan 'Muhammad Ali dari Irlandia'. Namun, menurut saya, McGregor sekarang tidak perlu lagi merasa demikian. Karena memang dia adalah 'Ali'.

Ia adalah Ali atau setidaknya jelmaan Ali di masa sekarang. Satu hal yang tak bisa ditampik McGregor adalah referensi bertarungnya berasal dari Ali. Referensi itulah yang menjadikan dirinya seperti saat ini. Tak hanya dari gaya berbicara, tapi juga gaya bertarung. Dan meskipun keduanya berbeda warna kulit dan gaya hidup, Ali dan McGregor sama-sama bukan petarung bisu. Mereka akan terus bersuara hingga lawan tidak berdaya.

Lantas apa yang akan terjadi ketika McGregor secara perdana tampil di ring tinju? Melawan petinju yang memiliki catatan 49 kali kemenangan tanpa kekalahan? Andai Ali masih hidup dan sehat, McGregor mungkin akan langsung berguru kepadanya.

Tapi itu tak jadi soal. Anggap saja perasaan McGregor saat ini sama bergejolaknya seperti kali pertama kali Ali terjun ke dunia tinju profesional melawan Liston. Bila Ali saja bisa mengatasi rasa tegang di atas ring saat itu, maka demikian halnya McGregor pada saat ini.

Layaknya pertarungan-pertarungan sebelumnya di UFC, McGregor juga membuat ramalan tentang kemenangannya melawan Mayweather. Dalam konferensi pers pertama jelang pertarungan 'fantasi' tersebut, McGregor dengan lantang menyampaikan akan menang KO dalam kurun waktu empat ronde pertarungan.

"Camkan perkataan saya," katanya dengan jas biru tua bercorak provokasi.

Mayweather tentu tak boleh anggap remeh ramalan tersebut.

Saya bukan seorang yang fanatik terhadap McGregor. Akan tetapi, saya tak dapat menampik bahwa sensasi menikmati laga petarung berjanggut lebat itu tampak begitu menarik.

Namun pesan saya hanya satu. Pesan ini bukan semata untuk saat ini jelang pertarungan melawan Mayweather, tapi juga untuk karier McGregor di masa mendatang, "Hati-hati. Jangan terlalu banyak membual, McGregor."

Barangkali pesan itu pula yang akan Ali katakan kepadanya.
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS