Putra Permata Tegar Idaman
Menggemari bulutangkis dan mengagumi Roberto Baggio sejak kecil. Pernah bekerja di harian Top Skor dan Jakarta Globe. Kini menjadi penulis di kanal olahraga CNN Indonesia

Jatuh Cinta yang Berulang pada Liliyana Natsir

Putra Permata Tegar Idaman, CNN Indonesia | Rabu, 30/08/2017 12:41 WIB
Jatuh Cinta yang Berulang pada Liliyana Natsir Liliyana Natsir tak henti membuat penggemar bulutangkis terus jatuh cinta padanya. ( REUTERS/Russell Cheyne)
Jakarta, CNN Indonesia -- Indonesia berhasil mengamankan satu titel juara dunia pada Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2017. Dua atlet yang berdiri di podium tertinggi itu adalah wajah yang tak asing: Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir.

Sebulan sebelum Kejuaraan Dunia Bulutangkis 2017 digelar, CNNIndonesia.com menghampiri pelatnas Cipayung untuk melakukan wawancara khusus dengan Liliyana Natsir. Setelah bertegur sapa, kalimat yang diutarakan Liliyana saat itu adalah:

“Gak bosen apa wawancara saya terus?” kata Liliyana bertanya sambil tertawa saat itu.

Liliyana adalah wajah bulutangkis Indonesia dalam lebih dari satu dekade terakhir. Lewat prestasi Liliyana dan sedikit pemain lainnya, langkah Indonesia yang sejatinya terseok-seok mengimbangi perkembangan kekuatan negara lainnya, praktis terlihat tetap gagah di mata dunia.

CNNIndonesia.com ketika berkesempatan mewawancarai Liliyana Natsir sebelum Kejuaraan Dunia 2017.CNNIndonesia.com ketika berkesempatan mewawancarai Liliyana Natsir sebelum Kejuaraan Dunia 2017. (CNN Indonesia/Ranny Virginia Utami)
Sejak Liliyana menjadi juara dunia untuk kali pertama pada 2005, praktis hanya ada sedikit pemain Indonesia yang mampu bersaing di level atas yaitu Taufik Hidayat, Markis Kido, Hendra Setiawan, Nova Widianto, Mohammad Ahsan, dan Tontowi Ahmad.

Dari segelintir nama yang ada di atas, Liliyana telah sukses menjaga nama Indonesia tetap ada di papan atas sejak ia berpasangan dengan Nova dan kemudian berlanjut dengan Tontowi.

Liliyana sukses merebut berbagai gelar bergengsi di dunia mulai dari All England (3 gelar), Kejuaraan Dunia (4 gelar), hingga medali emas Olimpiade.

Liliyana Natsir selalu mampu membanggakan Indonesia di ajang internasional.Liliyana Natsir selalu mampu membanggakan Indonesia di ajang internasional. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Seburuk-buruknya kegagalan Liliyana tetaplah ada di tempat yang tinggi, seperti misalnya ajang Asian Games. Liliyana belum pernah jadi juara Asian Games, namun medali perak turnamen tersebut pernah tergantung di lehernya.

Liliyana adalah gambaran impian sebuah olahragawan. Masa kecil penuh pengorbanan, masa muda penuh perjuangan, yang berujung pada karier cemerlang.

Indikator hebatnya Liliyana adalah ketika ia mengangkat gengsi nomor ganda campuran di mata publik Indonesia. Ganda campuran yang dulu merupakan nomor kelas dunia bisa menjelma jadi primadona.

Liliyana Natsir sukses jadi juara dunia 2017, setahun usai meraih emas Olimpiade.Liliyana Natsir sukses jadi juara dunia 2017, setahun usai meraih emas Olimpiade. (REUTERS/Russell Cheyne)
Sosok Liliyana pun penuh karisma. Ia dipuja dan mendapat banyak cinta dari penggemarnya.

Bertahun-tahun melihat aksi Liliyana di lapangan sudah sangat cukup untuk membuat sosok Liliyana merekat erat di ingatan. Namun, sebagaimana kekaguman yang mencuat ketika Liliyana melakukan pekik kemenangan, bayang-bayang kesedihan saat Liliyana akan pamit mundur dari lapangan sudah mulai terbentang.

Liliyana sempat berpikir untuk pensiun pasca kegagalan Olimpiade 2012, namun kemudian ia membidik Olimipiade Rio de Janeiro 2016 sebagai tempat pembalasan dendam.

Sepanjang 2012-2016, karier Liliyana dan Tontowi terbilang naik-turun. Tontowi/Liliyana sempat meraih banyak gelar bergengsi di 2013 hingga awal 2014, namun kemudian menunjukkan performa yang menurun jelang Olimpiade 2016.

Tak terlalu diunggulkan di Rio de Janeiro, Tontowi/Liliyana justru mampu memutarbalikkan prediksi dan pulang ke Indonesia sebagai pahlawan dengan raihan medali emas di tangan.

Setelah jadi pemenang Olimpiade, pengumuman berikutnya yang ditunggu oleh publik adalah keputusan Liliyana terhadap kariernya.

Publik seperti sudah ikhlas bila Liliyana memilih mundur pasca Olimpiade karena dia akan mundur di puncak kariernya.

Liliyana Natsir memilih untuk melanjutkan karier usai menjadi juara Olimpiade.Liliyana Natsir memilih untuk melanjutkan karier usai menjadi juara Olimpiade. (CNN Indonesia/Putra Tegar)
Setelah itu Liliyana mengalami masalah cedera lutut dan sulit untuk menemukan performa terbaik. Publik semakin rela dan ikhlas untuk meyakini bahwa Liliyana pun tak bisa melawan usia.

Namun di pertengahan tahun 2017 ini semua mendadak kembali seperti semula. Tontowi/Liliyana juara Indonesia Terbuka dan kemudian berlanjut jadi juara dunia.

Tontowi/Liliyana lagi-lagi jadi penyelamat Indonesia, baik di Indonesia Terbuka maupun Kejuaraan Dunia karena mereka satu-satunya yang berjaya.

Liliyana masih bisa jadi pahlawan Indonesia dan membuat publik terus jatuh cinta dalam pesonanya.

Liliyana Natsir pilih pensiun usai Asian Games 2018.Liliyana Natsir pilih pensiun usai Asian Games 2018. (REUTERS/Marcelo del Pozo)
Rasa rela yang ada di dalam hati penggemar bulutangkis Indonesia selama setahun ini mendadak hilang seketika saat melihat Liliyana masih bisa berdiri di podium tertinggi sambil tersenyum dan tertawa.

Liliyana kemudian memilih menahan keputusan pensiun dengan misi ikut Asian Games 2018. Banyak pula publik yang berlega hati karena masih ada jarak untuk mereka benar-benar rela melepas kepergian Liliyana.

Entah bagaimana nanti rasa sedih yang akan datang saat Liliyana benar-benar pergi dan tak akan kembali lagi ke lapangan. Namun, publik sepertinya lebih memilih menikmati momen saat ini, momen ketika Liliyana terus membuat mereka jatuh cinta pada karisma dan pesonanya.
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS