"Tidak terpenuhinya target dan perkembangan yang terjadi, bahkan desakan dari seluruh rakyat Indonesia, selain minta maaf barang tentu kami akan melakukan langkah besar, upaya besar, bekerja sama dengan stakeholder olahraga karena ini harga diri bangsa yang harus ditangani serius,” ujar Imam.
Dalam konferensi pers di Kantor Kemenpora, Jakarta, Kamis (31/8), Imam juga megapresiasi kontingen Indonesia yang meraih 38 emas, 63 perak, dan 90 perunggu di SEA Games 2017.
"Kita tentu harus mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas dedikasi pengorbanan untuk menghadirkan prestasi meraih medali. Terima kasih kepada atlet yang berjuang penuh kejujuran, sportivitas dan meraih medali yang diperoleh dari kejujuran dan sportivitas itu," ucap Imam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menpora Imam Nahrawi siap mengambil langkah besar untuk memperbaiki prestasi olahraga Indonesia. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H.) |
Masalah olahraga disebut Imam tidak bisa diselesaikan secara parsial melainkan secara menyeluruh. Salah satunya dengan membuat terobosan kebijakan baru yang tidak melanggar aturan.
"Sementara kita harus tertib dan disiplin administrasi. Kalau tidak, ada soal hukum di dalamnya. Ke depan, kami akan melibatkan masyarakat yang lebih luas, swasta dan donasi lain yang akan diakomodir lewat lembaga pendanaan olahraga yang dibentuk pemerintah,” ucap Imam.
Terkait pembinaan atlet, Menpora Imam mengatakan akan memaksimalkan dan memaksakan cabor untuk memakai fasilitas olahraga pasca PON (Pekan Olahraga Nasional) yang ada di Pekanbaru, Bandung, maupun Palembang.
Hal itu dimaksudkan agar kontrol perkembangan atlet bisa lebih mudah. Termasuk pengawasan dari segi nutrisi dan logistik kebutuhan dan fasilitas atlet.
"Saya akan bertanggung jawab ke presiden tugas-tugas yang saya emban. Kepada masyarakat, kami mohon dukungan dan doa agar sukses prestasi di Asian Games betul-betul bisa kita lihat secara nyata," ujar Imam. (har)
Menpora Imam Nahrawi siap mengambil langkah besar untuk memperbaiki prestasi olahraga Indonesia. (CNN Indonesia/M. Arby Rahmat Putratama H.)