WAWANCARA EKSKLUSIF

Tontowi Ahmad: Saya Bangga Jadi Simbol Keberagaman

Putra Permata Tegar Idaman & Titi Fajriyah | CNN Indonesia
Kamis, 07 Sep 2017 08:05 WIB
Kepada CNNIndonesia.com, Tontowi Ahmad bercerita tentang awal kariernya, duet dengan Liliyana Natsir, cinta terhadap keluarga, hingga simbol keberagaman. Tontowi Ahmad bangga dirinya dan Liliyana Natsir dianggap sebagai simbol keberagaman. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Jakarta, CNN Indonesia -- Tontowi Ahmad kembali mencetak sejarah usai meraih gelar juara dunia bulutangkis keduanya bersama Lililyana Natsir di Glasgow, Skotlandia, 27 Agustus lalu.

Selain mengoleksi dua gelar juara dunia, pebulutangkis kelahiran Banyumas, 18 Juli 1987, itu juga merebut medali emas Olimpiade 2016 Rio serta hattrick juara di All England bersama Liliyana.

Dalam wawancara eksklusif dengan CNNIndonesia.com, pebulutangkis asal klub PB Djarum itu menceritakan kisah sedihnya saat membangun karier di dunia bulutangkis.


Tontowi juga mengungkapkan kegundahan hatinya jika ditinggal pensiun Liliyana, rencana pensiun, sampai peran sang Istri, Michelle Harminc, dalam kariernya.

Berikut ini wawancara CNNIndonesia.com bersama Tontowi ketika ditemui di Pelatnas PBSI:

Bagaimana Anda melihat karier Anda bila nanti Liliyana pensiun?

Saya akui mungkin berat untuk bisa menyamai prestasi Owi/Butet. Saya juga menyadari hal itu. Tapi saya berpikir, mudah-mudahan karier saya tidak berhenti di Owi/Butet saja.

Ya, tapi tidak mungkinlah bisa menyamakan Owi/Butet. Jadi juara All England saja (minimal) butuh tiga tahun, juara dunia dua kali (minimal butuh dua tahun), namun juga belum tentu (bisa cepat terwujud), jadi saya menyadari itu. Amin-amin saya bisa. Tapi saya rasa berat untuk bisa menyamakan apalagi melebihi prestasi Owi/Butet.

Ada rencana mau pensiun?

Saya sendiri tidak mematok pensiun kapan. Selagi saya masih mampu, saya masih bisa berprestasi, selagi saya masih dipercaya Kak Icad (Pelatih ganda campuran, Richard Mainaky), saya berusaha untuk bisa maksimal dalam bidang ini dan saya mau terus.

Tontowi Ahmad menganggap perilaku sangat penting bagi seorang pebulutangkis.Tontowi Ahmad menganggap perilaku sangat penting bagi seorang pebulutangkis. (CNN Indonesia/Tri Wahyuni)
Apa masih sering gugup jika tampil bersama Liliyana?

Sebenarnya puncaknya di Olimpiade (Rio 2016). Sebelum Olimpiade pun masih gelisah, takut ini, takut itu. Golnya di Olimpiade dan memang itu tujuan utama kami, setelah menang di sana, main makin enjoy. Jadi yang dulu pikiran resah gelisah, grogi panik waktu mau main, sekarang tidak ada lagi karena saya sudah enjoy menikmati pertandingan.
Saya melihat Michi kuat banget. Dia dicecer fans sana-sini. Giliran saya menang dia tidak dianggap, giliran saya kalah dia yang dicecer, itu sering banget. Tontowi Ahmad

Dan terbukti juga, malah kami masih bisa berprestasi dengan pemikiran itu. Main jadi lebih tenang, lebih matang. Saya merasa sebelum Olimpiade main belum mateng, kadang naik, kadang turun.

Tontowi disebut agak lambat bersinar. Apa pernah merasa putus asa? Lalu, saran untuk junior yang punya pengalaman yang sama?

Sejujurnya, saya masuk Cipayung saja agak lambat. 19 tahun saya baru masuk PBSI, waktu umur 23 saya baru naik. Saat itu saya tidak berpikir apa-apa, cuek saja. Saya yang penting latihan porsi dari pelatih seberapa pun saya makan saja dan itu patokan saya sampai sekarang.

Dan juga, sikap dijaga benar. Terutama menghormati senior-senior. Bagaimana mau jadi juara, kalau sama senior saja tidak menghormati.  Karena saya lihat bulutangkis tidak segampang 'oh, sekadar latihan bagus, skill bagus terus juara’. Tidak seperti itu, tidak segampang itu. Banyak faktor untuk kita bisa jadi juara, lalu bisa mempertahankan gelar juara.

Kalau juara gampang, tapi mempertahankannya butuh proses yang rumit. Yang susah tidak hanya sekadar latihan dan punya semangat juara. Tidak. Salah satunya perilaku. Makanya, buat para junior-junior, pelapis ini, kalau bisa juara dijaga perilaku pada senior, pelatih, dan juga harus bisa menghargai diri sendiri.

Komunikasi yang bagus menjadi keunggulan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir.Komunikasi yang bagus menjadi keunggulan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. (AFP PHOTO / ANDY BUCHANAN)
Sejauh ini siapa lawan terberat dan apa alasannya?

Sebenarnya kalau era sekarang ini sih mungkin banyak yang susah dihadapi, tapi sekarang kami lebih percaya diri buat mengatasi. Seperti kemarin bertemu China kan berat. Zheng Siwei/Chen Qingchen itu berat, dia sering masuk final, tapi kami bisa mengatasi.

Sekarang musuh-musuh yang dulu sudah tidak ada, jadi kami memandang ganda campuran yang ada saat ini sebagai junior. Kalau sekarang, musuh terberat belum ada di kacamata kami untuk ganda campuran.

Kalau dulu ada Zhang Nan/Zhao Yunlei, Xu Chen/Ma Jin. Paling susah Zhang Nan/Zhao Yunlei pasti. Dia banyak pengalaman, banyak gelar juara, mentalnya juga bagus.

Bagi Tontowi, mudahkah menjadi atlet di Indonesia?

Enggaklah, belum tentu orang bisa kuat ngejalanin profesi atlet. Karena kita dari pagi sampai sore diperas keringatnya, ibaratnya gitu.

Jadi, kita latihan itu seharian full, sudah capek badan, kalau kalah capek pikiran juga, belum lagi kita diserang sana-sini. Itu tidak gampang. Jadi belum tentu orang lain bisa kuat jadi atlet. Harus benar-benar siap fisik dan mental untuk bisa jadi seorang atlet.

Kalau diminta turun di ganda putra, siapa pasangan yang Anda pilih?

(Tertawa) Tidak ada kepikiran sejujurnya. Tapi kalau buat iseng-iseng sama (Mohammad) Ahsan boleh. Karena sama-sama tuanya. Kalau dikasih target, juara PON saja, ha ha ha. Tidak, tidak ada kepikiran buat main ganda putra.

Sekarang kalau orang panggil saya Tantowi Ahmad, yang protes bapak saya.Tontowi Ahmad

Bisa diceritakan kondisi paling menyedihkan di awal karier sebagai pebulutangkis?

Jadi, waktu mau ke Cipayung banyak lika-likunya. Sampai masuk Cipayung tuh ibarat kalau dibilang masih susah, masih susah banget.

Dulu saya di klub saya di Semen Gresik, saya sudah mau berhenti badminton. Saya sudah latihan 'Senin-Kamis' saja, saya mau berhenti. Tapi memang dikasih jalan. Kebetulan klub PB Djarum ambil saya dan saya ditampung di klub Djarum dan saya akhirnya bisa ikut pelatnas dan melanjutkan karier.

Kalau waktu itu saya tidak ada yang menolong, tidak ada klub Djarum, ya habis karier saya di situ. Dan pada waktu itu lagi susah-susahnya. Justru beratnya itu sebelum masuk pelatnas.

Saya lihat sudah tidak ada jalan, saya pemain ganda dan tinggal sendiri. Itu masa-masa berat, sedih sih tidak, tapi masa-masa berat.

Seberapa dekat Anda dengan Liliyana Natsir di luar lapangan?

Kalau saya sama Cik Butet di luar sering tukar pikiran. Dia kan lebih berpengalaman, dalam hal mengelola uang pun lebih berpengalaman, dia juga lebih berprestasi.

Kalau liburan tidak pernah bareng. Paling habis latihan, ngobrol. Kalau di luar saya anggap Cik Butet kakak saya.

Bagaimana seorang Tontowi Ahmad menggambarkan peran istri dalam perjalanan karier?

Saya melihat Michi kuat banget. Dia dicecer fans sana-sini. Giliran saya menang dia tidak dianggap, giliran saya kalah dia yang dicecer, itu sering banget.

Saya salut, dia bisa bertahan sama saya sampai sekarang. Saya hormat, salut sama pengorbanan dia dan dia selalu ada untuk saya.

Apa motivasi terbesar untuk jadi juara buat Anda?

Anak saya, Danish Arsenio Ahmad, keluarga. Saya ingin membanggakan Danish, istri juga, keluarga, dan ingin membanggakan Indonesia.

Apa yang sering Danish ucapkan saat Tontowi Ahmad pulang ke rumah usai turnamen?

Danish sering tanya saya, 'papa darimana'. Dia juga sudah tahu bila saya bertanding dan disiarkan di televisi. Danish pasti bilang,'Itu papa, habis ini pasti ada Danish.'

Danish bilang begitu soalnya dia pernah saya ajak ke lapangan setelah juara Indonesia Terbuka bulan Juli lalu. Setelah itu, Danish lihat kalau dia ada di televisi. Jadi sekarang, setiap saya habis main, dia pasti bilang begitu.

Kemarin saat saya ke Cipayung, pergi pas Danish belum bangun. Begitu dia bangun, dia nangis karena saya sudah pergi dan minta telepon saya.

Tontowi Ahmad berpose bersama istrinya, Michelle Harmic, dan menggendong anaknya, Danish Arsenio Ahmad.Tontowi Ahmad berpose bersama istrinya, Michelle Harmic, dan menggendong anaknya, Danish Arsenio Ahmad. (CNN Indonesia/Putra Tegar)
Kekuatan utama Owi/Butet di mana?

Mungkin kekuatannya dari komunikasi, pengertian satu sama lain dan yang pasti doa. Itulah Owi/Butet. Tanpa komunikasi yang baik, berat bisa bertahan sampai tujuh tahun. Jarang yang bisa lama, paling 5-6 tahun juga sudah habis.

Owi/Butet sering dijadikan simbol keberagaman, komentarnya?

Saya waktu lihat berita tentang itu juga saya menengok ke belakang tentang perjalanan karier saya bersama Cik Butet. Saya juga bangga bila dianggap sebagai simbol keberagaman dan bisa mempersatukan Indonesia, apalagi negaranya lagi kacau, banyak hoax sana, hoax sini.

Mudah-mudahan dengan adanya prestasi saya sama Cik Butet bisa mempersatukan lagi Indonesia, jangan sampai terpecah belah kaya negara yang lagi perang. Amit-amit, jangan sampai.

Nama Tontowi Ahmad artinya apa?

Jadi nama saya itu Tontowi itu berasal dari nama pengarang kitab terkenal. Itu Mbah saya yang kasih nama. Kalau Ahmad kan dari nama Bapak. Sekarang kalau orang panggil saya Tantowi Ahmad, yang protes bapak saya.

Kalau bagi saya, ada yang panggil tapi salah, paling oh... itu belum ngerti paling. Tidak apa-apa. Kalau salah sebut nama, dia berarti belum tahu saya.

Jadi bagi saya, untuk melihat seseorang benar-benar mengenal saya atau tidak, itu gampang saja. Kalau mereka memanggil saya Tantowi berarti orang jauh, kalau Tontowi berarti dia tahu dan sudah mengikuti perjalanan karier saya. (har)
TOPIK TERKAIT
ARTIKEL TERKAIT
BACA JUGA
Lihat Semua
SAAT INI
BERITA UTAMA
REKOMENDASI
TERBARU
LAINNYA DI DETIKNETWORK
LIVE REPORT
LIHAT SELENGKAPNYA
TERPOPULER