Adalah Jimmi A. Laulela, Paskibraka Kabupaten Rote Ndao yang terpilih untuk mengarungi lautan dan daratan Indonesia mulai dari Rote, Merauke, sampai ke Blitar. Ia menjadi pemuda terakhir di luar 72 nama dari 34 provinsi yang sebelumnya sudah terpilih.
Bupati Rotendau Leonard Hening mengapresiasi kehadiran Menpora Imam di Pulau Rote, pulau paling ujung di Selatan Indonesia. Ia berharap ini adalah momentum agar Rote bisa lebih dikenal dan mampu menghasilkan pemuda berprestasi yang bisa banyak berkontribusi untuk Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menpora Imam Nahrawi di Rote dalam acara Kirab Pemuda 2017 zona II. ( Dok. Kemenpora) |
Menpora Imam dalam sambutannya mengaku senang akhirnya bisa berkunjung ke Pulau Rote. Pasalnya, selama ini ia hanya bisa menyebut nama tanpa pernah mengetahui secara jelas kondisi Pulau Rote sesungguhnya.
Kirab Pemuda 2017 akan berakhir di Blitar. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah) |
"Indonesia itu mengajarkan kepada dunia bahwa sebuah perbedaan itu indah meski berbeda suku, ras dan warna kulit," ungkap Imam.
Kehadiran Jimmi buat Imam merupakan sebuah penghargaan dan penghormatan kepada Pulau Rote yang nasih setia menjadi bagian dari Indonesia.
"Ketika saya menginjakkan kaki di Rote sata melihat keramahtamahan yang luar biasa. Bupatinya, rakyatnya sangat baik. Alamnya sangat indah nan elok, belum lagi ombaknya cukup bagus. Sebuah apresiasi kami, yakni langsung meminta Pak Bupati siapa anak Rote yang akan bergabung dengan 72 pemuda perwakilan Provinsi di Indonesia.”
"Ini seperti takdir Tuhan. Mungkin Jimmi tidak pernah bermimpi (bergabung dengan 72 peeseta Kirab Pemuda 2017). Sekarang kita bisa melihat Jimmi bisa keliling Indonesia dan pastinya akan menjadi pengalaman menarik bagi Pulau Rote," ucap Imam.
Peserta Kirab Pemuda 2017 Zona II akan memulai perjalanan mulai dari Pulau Rote menuju Merauke dan berakhir di Blitar, Jawa Timur, pada 8 Desember mendatang.
Menpora Imam Nahrawi di Rote dalam acara Kirab Pemuda 2017 zona II. ( Dok. Kemenpora)
Kirab Pemuda 2017 akan berakhir di Blitar. (CNN Indonesia/Titi Fajriyah)