George Weah Semakin Dekat dengan Kursi Presiden Liberia

Arby Rahmat , CNN Indonesia | Jumat, 13/10/2017 14:02 WIB
George Weah Semakin Dekat dengan Kursi Presiden Liberia
Jakarta, CNN Indonesia -- Mantan penyerang AC Milan dan Chelsea sekaligus pemilik gelar Ballon d'Or 1995, George Weah, semakin dekat dengan kursi presiden di Liberia.

Weah dan pasangannya yang menjadi wakil presiden, Joseph Boakai, mendominasi perhitungan suara sementara dari Komisi Pemilihan Negara pada Kamis (12/10).


Menurut data analis yang dilansir dari AFP (13/10), Weah dan Boakai yang unggul di beberapa wilayah diprediksi akan memenangi pemungutan suara.

Bila suara untuk Weah belum melebihi ambang batas 50 persen, maka perhitungan berikutnya akan dilaksanakan pada 7 November mendatang.

Weah merupakan sosok yang dikagumi di Liberia. Sebelum terjun di dunia politik, Weah sudah lebih dulu tenar sebagai penyerang tajam di lapangan hijau.

Geroge Weah masuk ke dunia politik setelah pensiun dari lapangan hijau.George Weah beralih ke dunia politik setelah gantung sepatu. (Chris Hondros/Getty Images)
Laki-laki yang kini berusia 51 tahun tersebut adalah salah satu pemain terbaik Afrika sepanjang masa, dan juga salah satu penyerang terbaik dalam generasinya.

Ballon d'Or yang diraih di tahun 1995 menjadikan Weah sebagai pemain Afrika pertama yang memenangkan penghargaan prestisius. Pemain Timnas Liberia 1987-2003 tersebut juga berhasil menyabet predikat pemain  pesepakbola terbaik di Afrika pada 1989, 1994, dan 1995.

George Weah berkampanye jelang pemungutan suara presiden Liberia.George Weah berkampanye jelang pemungutan suara presiden Liberia. (AFP PHOTO / ISSOUF SANOGO)
Sejumlah klub besar yang pernah ia bela antara lain Monaco (1988-1992), Paris Saint-Germain (1992-1995), AC Milan (1995-2000), Chelsea (2000), dan Manchester City (2000).

Manajer Arsenal, Arsene Wenger, yang pernah menangani Weah saat membela Monaco, mendukung keikutsertaan anak didiknya untuk jadi kepala negara di negara yang berlokasi di Afrika Barat tersebut.

"Tentu saja seorang pelatih jarang memiliki mantan pemain yang kemudian bisa jadi presiden negaranya," kata Wenger.