Bowie Haryanto
Mengawali karier sebagai wartawan olahraga di harian Berita Kota. Menjadi asisten redaktur olahraga di portal inilah.com, dan redaktur olahraga di portal viva.co.id. Sekarang menjadi writer olahraga di CNN Indonesia.

93 Adalah 46 yang Baru

Bowie Haryanto, CNN Indonesia | Selasa, 14/11/2017 09:30 WIB
93 Adalah 46 yang Baru Marc Marquez memastikan gelar MotoGP keempatnya pada balapan MotoGP Valencia. (AFP PHOTO / PIERRE-PHILIPPE MARCOU)
Jakarta, CNN Indonesia -- “Bukan yang terkuat atau paling cerdas yang akan bertahan, tapi mereka yang bisa beradaptasi dengan perubahan.

Kalimat itu diungkapkan seorang penulis asal Amerika Serikat yang juga profesor manajemen, Leon C. Megginson, untuk menggambarkan arti evolusi. Secara umum evolusi memiliki arti perubahan secara perlahan-lahan.

Perubahan secara perlahan-lahan atau evolusi kini sedang terjadi di MotoGP. Ajang balap motor paling bergengsi di dunia itu baru saja menobatkan Marc Marquez sebagai juara dunia MotoGP 2017.

Kegagalan finis yang dialami pebalap Ducati, Andrea Dovizioso, pada balapan MotoGP Valencia, Minggu (12/11), membuat Marquez berhasil merebut gelar juara dunia MotoGP keempatnya.

Era kehebatan Valentino Rossi, perlahan tapi pasti, tergerus oleh prestasi Marc Marquez.
Secara prestasi di MotoGP, kehadiran Marquez bukanlah suatu evolusi. Pasalnya, pebalap yang dijuluki The Baby Alien itu langsung menjadi juara dunia MotoGP di dua musim pertamanya di kelas MotoGP pada 2013 dan 2014.

Marquez menciptakan sebuah evolusi karena pebalap asal Spanyol itu mulai menggeser pamor Valentino Rossi sebagai pebalap paling tenar di MotoGP. Ya, 93 (nomor balap Marquez) adalah 46 (nomor balap Rossi) yang baru.

Era kehebatan Rossi, perlahan tapi pasti, tergerus prestasi Marquez. Menariknya, Marquez hanya butuh lima musim untuk menciptakan sebuah evolusi di MotoGP. Bahkan bukan tidak mungkin kalau Marquez bisa melewati kehebatan Rossi, setidaknya dari segi gelar juara dunia.
Marc Marquez merebut empat gelar juara dunia MotoGP hanya dalam lima musim.Marc Marquez merebut empat gelar juara dunia MotoGP hanya dalam lima musim. (AFP PHOTO / JOSE JORDAN)
Torehan empat gelar juara dunia MotoGP, satu juara dunia Moto2, dan satu juara dunia 125cc, membuat Marquez menjadi pebalap termuda yang mampu meraih enam gelar juara dunia. Hebatnya, pebalap 24 tahun itu hanya butuh lima musim untuk mengoleksi empat gelar juara dunia MotoGP.

Marquez menyamai rekor Rossi, yang mengoleksi empat gelar juara dunia kelas primer Grand Prix di lima musim pertamanya (2000 hingga 2004). Ketika itu Rossi mengoleksi lima gelar juara dunia kelas primer dalam enam musim pertamanya, dengan merebutnya lima kali beruntun sepanjang 2001 hingga 2005.

Rossi kali terakhir menjadi juara dunia MotoGP pada 2009, ketika usianya 30 tahun. Marquez kini masih 24 tahun, dan dengan talenta yang dimilikinya, Marquez berpeluang besar melewati koleksi sembilan gelar juara dunia milik Rossi.

Musim depan saya tidak bisa melihat ada pebalap lain yang bisa menyaingi Marquez dalam perebutan gelar juara dunia. Rossi sudah tidak muda, Maverick Vinales dan Jorge Lorenzo masih kesulitan beradaptasi, Dovizioso belum memiliki sepeda motor yang sempurna, sedangkan Franco Morbidelli dan Johann Zarco tidak memperkuat tim pabrikan.
Marc Marquez punya paket yang tepat untuk menjadi Raja MotoGP.Marc Marquez punya paket yang tepat untuk menjadi Raja MotoGP. (AFP PHOTO / JOSE JORDAN)
Bagi saya, hanya satu pebalap yang bisa menyaingi Marquez dalam perebutan gelar juara dunia MotoGP saat ini. Pebalap itu adalah Jorge Lorenzo. Tapi, Lorenzo yang menggunakan sepeda motor YZR-M1 milik Yamaha.

Lorenzo sedang berada di masa keemasan di MotoGP saat ini. Sayang, keputusannya untuk meninggalkan Yamaha dan bergabung dengan Ducati membuat juara dunia MotoGP tiga kali itu terlempar dari persaingan gelar juara dunia musim ini.

Hebat di atas sirkuit dan ramah di luar sirkuit, membuat Marquez memiliki paket yang tepat untuk menggantikan peran Rossi.
Semula, saya berpikir adalah Lorenzo yang akan menghentikan era Rossi di MotoGP. Tapi, penampilan Marquez dalam lima musim terakhir membuat prediksi saya salah. Kini, saya meyakini adalah Marquez yang menghentikan era Rossi. Meyakini kalau 93 adalah 46 yang baru.

Tidak bisa dipungkiri kalau Rossi adalah pebalap terhebat dalam sejarah MotoGP. Saya selalu menyebut The Doctor sebagai The GOAT atau Greatest of all Time. Tapi, saya juga harus bisa menerima kenyataan kalau Rossi tidak akan bisa selamanya menjadi yang terbaik di atas lintasan sirkuit.

Evolusi sedang terjadi di MotoGP dan sekarang waktunya Marquez menjadi yang terbaik. Marquez mampu beradaptasi dengan sempurna sejak promosi ke ajang MotoGP pada 2013.

Sempat sering melakukan sendiri dan gagal finis karena kecelakaan, Marquez kini mampu beradaptasi dengan tampil lebih dewasa di atas sirkuit.
Marc Marquez bisa mendominasi MotoGP dalam beberapa tahun ke depan.Marc Marquez bisa mendominasi MotoGP dalam beberapa tahun ke depan. (AFP PHOTO / JOSE JORDAN)
Marquez juga luwes di luar sirkuit. Bahkan Marquez bisa dibilang lebih ramah kepada penggemarnya jika berada di sekitar sirkuit jelang balapan ketimbang Rossi. Marquez terbilang periang di luar sirkuit.

Hebat di atas sirkuit dan ramah di luar sirkuit, membuat Marquez memiliki paket yang tepat untuk menggantikan peran Rossi sebagai pebalap nomor satu dan paling dicintai di MotoGP.

Penggemar Marquez juga mulai berkembang pesat. Ratusan bendera merah dengan nomor 93 mulai mampu menyaingi bendera kuning dengan nomor 46 di setiap seri balapan MotoGP.

Tinggal waktu yang akan menjawabnya. Mampukah Marquez membuktikan ucapan Leon C. Megginson di awal tulisan ini. Tapi untuk sementara, kita harus mengakui kalau The Baby Alien adalah Raja MotoGP. (har)
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS