Beitar Jerusalem, Klub Israel dengan Suporter Paling Rasial

Haryanto Tri Wibowo, CNN Indonesia | Selasa, 19/12/2017 06:53 WIB
Beitar Jerusalem, Klub Israel dengan Suporter Paling Rasial La Familia selalu menolak pemain Muslim dan keturunan Arab di klub Beitar Jerusalem. (AFP PHOTO/STR)
Jakarta, CNN Indonesia -- Didirikan pada 1936, Beitar Jerusalem merupakan klub sepak bola paling berpengaruh di Israel. Prestasinya bukan yang terbaik di Israel, tapi Beitar memiliki suporter yang diklaim sebagai paling rasial di dunia.

Adalah La Familia kelompok suporter yang dianggap sebagai rasial di dunia. Didirikan pada 2005, La Familia merupakan kelompok suporter yang anti Muslim dan warga Israel keturunan Arab.

Dikutip dari berbagai sumber, termasuk The Washington Post, La Familia sering menyerukan chant ‘Kematian untuk Arab’, menghina Nabi Muhammad, dan berteriak ‘teroris’ kepada pemain Muslim di setiap pertandingan Beitar.
Dzhabrail Kadiyev dan Zaur Sadayev dua pemain Muslim yang direkrut Beitar pada 2013.Dzhabrail Kadiyev dan Zaur Sadayev dua pemain Muslim yang direkrut Beitar pada 2013. (AFP PHOTO / AHMAD GHARABLI)
Ya, La Familia sangat membenci Muslim dan pesepakbola keturunan Arab. Pernah satu ketika anggota La Familia membakar markas klub Beitar setelah klub berjuluk The Menorah itu merekrut dua pesepakbola Muslim asal Chechnya, Dzhabrail Kadiyev dan Zaur Sadayev, pada 2013.


Anggota La Familia sangat marah dengan keputusan klub mendatangkan dua pemain Muslim, karena sebelum 2013, Beitar merupakan satu-satunya klub Israel yang tidak pernah merekrut pemain Muslim. Sesuai dengan slogan La Familia untuk Beitar, “Beitar Selamanya Murni.”
Slogan La Familia bertuliskan 'Beitar Selamanya Murni'.Slogan La Familia bertuliskan 'Beitar Selamanya Murni'. (AFP PHOTO/STR)
Kadiyev dan Sadayev selalu mendapat ancaman dari anggota La Familia, mulai dari saat menjalani latihan ataupun saat pertandingan. Bahkan ketika Sadayev mencetak gol untuk Beitar ketika melawan Maccabi Netanya, 3 Maret 2013, anggota La Familia justru meninggalkan Stadion Teddy.

Menariknya, La Familia tidak pernah menyembunyikan sikap rasial. Sebelum pertandingan, ribuan anggota La Familia selalu melakukan chant, “Inilah kami, klub paling rasial di negara ini.”

Hingga kini kebencian La Familia terhadap Muslim atau pesepakbola keturunan Arab tidak berkurang. Tahun lalu, 19 anggota La Familia ditangkap karena percobaan pembunuhan terhadap suporter rival yang Muslim.

Belakangan, sejumlah anggota La Familia berusaha mengurangi sikap rasial terhadap Muslim dan keturunan Arab. Bahkan pada Agustus 2017, Presiden Israel Reuven Rivlin memberi penghargaan Anti-Rasial kepada Beitar karena mampu mengurangi sikap rasial suporter mereka. (ptr)