BWF saat ini terus melakukan terobosan agar olahraga ini bisa masuk dalam jajaran olahraga populer di dunia. Tahun 2018 ini, BWF kembali mengeluarkan sejumlah terobosan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penamaan kali ini cenderung mengikuti tenis, yang mengkategorikan turnamen mereka dalam ATP 1000, ATP 500, dan ATP 250.
Aturan ini dibuat BWF dengan tujuan agar turnamen-turnamen di bawah kalender mereka berjalan semarak karena terus diikuti oleh pemain-pemain top, termasuk untuk turnamen level 4.
Namun kewajiban ini memiliki efek negatif, terutama bagi pemain-pemain yang sudah berumur. Mereka tak lagi bisa mengatur nafas karena diwajibkan mengikuti 12 turnamen, belum termasuk turnamen lain macam Kejuaraan Dunia, Asian Games, ataupun kejuaraan beregu misal Piala Thomas/Uber dan Piala Sudirman.
Tahun lalu, Liliyana Natsir 'hanya' tampil di 10 turnamen. Namun hasilnya, Liliyana mampu jadi juara dunia. Hal ini tak lepas dari kejelian pelatih dan pemain untuk menentukan prioritas turnamen dan lebih memilih menghabiskan waktu untuk membentuk persiapan matang dibandingkan turun ke turnamen yang bukan jadi target utama.
Liliyana Natsir sukses jadi juara dunia 2017 bersama Tontowi Ahmad karena pengaturan turnamen yang selektif. (Foto: Dok. Humas PBSI) |
Rencana Poin 5X11
BWF juga menerapkan regulasi baru yaitu servis harus dilakukan dengan ketinggian maksimal 1,15 meter dari permukaan lapangan. Penerapan batas angka pasti membuat penilaian tak lagi subjektif berdasarkan pengamatan service judge semata. Namun, peraturan ini akan menyulitkan pemain-pemain yang bertubuh tinggi.
Selain itu, salah satu rencana besar yang digodok BWF tahun ini adalah perubahan format pertandingan ke pola 5x11. Itu berarti para pebulutangkis hanya perlu merebut 11 poin untuk merebut satu gim dan harus merebut tiga gim secara keseluruhan untuk memenangkan pertandingan.
Selain itu, BWF juga bisa berharap durasi laga yang lebih singkat dibandingkan permainan dengan format 3x21.
Andai perubahan format poin 5x11 benar-benar terlaksana, pemain senior macam Lin Dan kembali merasakan perubahan format poin. (AFP PHOTO / STR) |
Kepastian perubahan format ke 5x11 juga harus dipikirkan BWF melalui pertimbangan matang karena format poin yang berubah tentunya merupakan sebuah titik sejarah, seperti halnya saat format 15 poin berubah menjadi format 21 poin lebih dari satu dekade lalu. (bac)
Liliyana Natsir sukses jadi juara dunia 2017 bersama Tontowi Ahmad karena pengaturan turnamen yang selektif. (Foto: Dok. Humas PBSI)
Andai perubahan format poin 5x11 benar-benar terlaksana, pemain senior macam Lin Dan kembali merasakan perubahan format poin. (AFP PHOTO / STR)