Sebelumnya, sejumlah cabor melalui Forum Cabang Olahraga keberatan atas pemotongan anggaran yang dianggap terlalu besar dari proposal yang diajukan. Alhasil, dari 40 cabor yang akan tampil di Asian Games, baru delapan di antaranya yang sudah menyetujui sekaligus meneken MoU (Memorandum of Understanding) terkait anggaran yang bakal diterima.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"IOA meminta cabor untuk lebih bijak dalam menggunakan anggaran yang telah disetujui khususnya untuk atlet-atlet berpotensi emas. Artinya jangan disamakan dengan atlet-atlet yang cuma menjadi partisipan saja," kata Richard Sam Bera, Ketua IOA kepada wartawan, Selasa (9/1).
Sesuai dengan hasil komunikasi dengan Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), IOA diberikan tugas untuk mengawasi cabor untuk penggunaan anggaran agar sesuai peruntukannya. Dalam waktu dekat, IOA bakal menjadwalkan waktu untuk bertemu dengan Menpora Imam Nahrawi guna mencari solusi terbaik atas persoalan tersebut.
Persiapan kontingen Indonesia menuju Asian Games terganggu oleh polemik anggaran pelatnas. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki) |
Selain itu, Richard yang merupakan atlet peserta Olimpiade 1988, 1996 dan 2000 itu mendorong agar masing-masing cabor supaya lebih kreatif dalam mencari sumber dana lain di luar pemerintah. Mengingat anggaran pemerintah untuk persiapan atlet di 2018 hanya sebesar Rp 375,06 miliar.
"Kami memandang setiap cabor tidak semestinya semua bergantung pada pemerintah. Kami sudah tahu kemampuan pemerintah terbatas. Agak sedikit naif apa yang diproposalkan diharapkan 100 persen."
Persiapan kontingen Indonesia menuju Asian Games terganggu oleh polemik anggaran pelatnas. (Foto: CNN Indonesia/Safir Makki)