Rosmiyati Dewi Kandi
Pernah menekuni profesi jurnalis, kini sedang studi Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Padjadjaran. Menyukai topik hukum dan lingkungan, serta menikmati pertandingan bulutangkis.

Menonton Juga Butuh Mental Juara

Rosmiyati Dewi Kandi, CNN Indonesia | Senin, 05/02/2018 13:30 WIB
Menonton Juga Butuh Mental Juara Ilustrasi. (CNN Indonesia/Fajrian)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sejak sekolah dasar, saya hobi nonton bulutangkis. Bapak yang mengenalkan saya pada olahraga ini. Seluruh jenis olahraga (dan beladiri) sebenarnya karena Bapak hobi nonton semuanya. Ya bulutangkis, sepak bola, tinju. Tiga ini memang yang paling sering. Tapi ketika sedang pesta olahraga seperti SEA Games, Asian Games, dan Olimpiade, semua cabang olahraga yang disiarkan televisi, terutama jika ada pemain Indonesia, Bapak pasti nonton.

Kegemaran itu menular ke saya dan adik saya (almarhumah). Tapi yang sering saya tonton selanjutnya adalah bulutangkis dan sepak bola. Untuk sepak bola, selain suka menonton Indonesia hingga mendaftar sebagai anggota The Jakmania ketika SMP, saya juga penggemar Juventus dan Italia.

Suka Juventus karena jatuh hati pada Filippo 'Pippo' Inzaghi, meski sering dikatai sebagai pemain yang hobi diving. Kalau ingat Pippo, sudah seberapa sering saya dibully karena kelakuan dia itu, mulai dari SMA sampai hari ini. Kalau ingat dulu, konyol juga. Apalagi kalau ingat momen menonton Juventus atau Italia kalah, dan saya menangis. Begitu juga ketika Tim Thomas dan Uber Indonesia gagal membawa pulang piala, air mata tak henti-hentinya berderai. Kadang sampai gagal move on selama sepekan.


Bapak tahu itu.

Jadi kadang-kadang, tiada angin tanpa hujan, Bapak suka nyeletuk, “Namanya juga main, neng. Kadang kalah, kadang menang. Kalau jadi penonton dan pendukung kita cuma bisa berharap dan berdoa.”
Filippo Inzaghi jadi idola saya ketika masih memperkuat Juventus.Filippo Inzaghi jadi idola saya ketika masih memperkuat Juventus. (AFP PHOTO / PATRICK HERTZOG)
Yang dibilang Bapak itu membekas sampai hari ini. Jadi kalau nonton, saya 'cuma' berharap dan berdoa semoga Indonesia menang. Semoga Juventus, dan Italia, dan belakangan Belanda menang.

Apa cuma berharap dan berdoa saja yang bisa dilakukan sebagai penonton dan pendukung? Jawabannya: tidak. Karena kita bisa membantu dengan mengasah mental kita menjadi penonton yang juga bermental juara.

Menonton secara langsung di stadion apalagi. Saya terganggu ketika melihat penonton yang buru-buru ingin pulang saat melihat idolanya kalah di gim pertama pertandingan bulutangkis. Kok ya kepikir mau pulang, padahal cuma nonton doang? Kok yang bermental rapuh begitu berani berharap pemain favoritnya punya mental baja dengan selalu menang di setiap pertandingan, bahkan di setiap set! Bro, sis, seriously?

Akan amat sangat membantu jika kita semua, yang dengan segala kerendahan hati saya katakan, hanya dan cuma sebagai penonton juga punya jiwa petarung.

Bukankah jagoan biasanya menang di setiap akhir laga? Masa baru gim pertama kalah, atau gim pertama menang dan gim kedua kalah, kita langsung merasa game is over.
Menjadi penonton juga butuh mental bagus agar maksimal memberikan dukungan.Menjadi penonton juga butuh mental bagus agar maksimal memberikan dukungan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Lupa bahwa sudah terlalu banyak momen ketika jawara-jawara bulutangkis kita membalikkan keadaan di menit-menit akhir? Bahkan ketika kita berharap dan berdoa pun sudah tidak berani, mereka dengan kekuatan fisik dan mental yang entah dilatih dengan cara sekeras apa, bisa menyalip dan berbalik unggul. Dan menang, membuat lawan mereka melongo. Dan membuat kita tak berhenti berdecak kagum. Dan sekali lagi kembali mengidolakan mereka. Mengelu-elukan mereka. Bangga atas prestasi mereka.

Menonton juga perlu keberanian.

Berani deg-degan. Berani menyimak skor yang bikin menahan napas. Berani menatap jatuh bangun atlet demi mempertahankan lapangannya. Berani melihat mereka melompat tinggi di udara untuk melakukan jump smash yang nyangkut di net. Guys, this is a game.

Pertandingan akan selalu membutuhkan pemain dan penonton. Pemain yang punya fisik dan mental baja, yang siap menang, terlebih siap kalah. Dan penonton—yang selalu hanya bersiap idolanya menang—harus membiasakan diri ada di posisi yang sama: siap kalah. Kita ada di posisi yang lebih mudah karena tak perlu mengasah fisik dan mental bersama-sama. Pemain hanya membutuhkan mental kita.

Mental kita untuk tidak merundung ketika mereka kalah. Mental kita untuk tidak memenuhi kolom komentar pada live streaming pertandingan dengan umpatan kekecewaan yang berlebihan. Mental kita untuk, menonton sampai akhir pertandingan dengan sikap yang positif.

Menonton memang bukan 'cuma', karena menjadi penonton juga butuh mental juara.
LEBIH BANYAK DARI KOLUMNIS